Rabu, 18 Oktober 2017

Kembar Buncing, Bali Selepas Senja


Tari Punggung, Bali. 24/9/17.
Judul: Incest, Kisah Kelam Kembar Buncing
Penulis: I Wayan Artika
Penerbit: Interpre Book, Yogyakarta
Cetakan: Ketiga, Juli 2008
Tebal Halaman: 268

“Di mata adat Jelungkap, kelahiran buncing ini menjadikan aku tidak lebih dari seekor bangkung, induk babi, yang hanya melahirkan anak, lalu diserahkan anak itu entah kepada siapa. Mereka tidak saling kenal dengan saudara serahim lagi. Sebagai seorang manusia, bagaimana aku menerima kenyataan ini, menyaksikan mereka akan dinikahkan oleh adat?”

Oleh: Paisal Salman Alparidji

            Melalui novel Incest, I Wayan Artika mencoba mengkritisi kekolotan salah satu adat di Bali, yang menganggap Kembar Buncing (Kembar sepasang laki-laki-perempuan) adalah sebuah aib dan harus diberi sanksi adat. Namun siapa yang menyangka, novel yang pada awalnya diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung ini terpaksa diberhentikan. Banyaknya tekanan dari pemuka-pemuka adat dan masyarakat Bali menjadi salah satu pertimbangan. Masyarakat pada saat itu menganggap penerbitan kisah ini sebagai pelecehan terhadap kesakralan budaya Bali. Akibatnya, ia diusir dari desa adat selama 5 tahun.

            Kisah ini pada mulanya bersetting di kota B, tempat kelahiran sang penulis, namun kemudian diganti menjadi Jelungkap (desa fiktif.) Putu Geo Antara dan Gek Bulan adalah tokoh sentral pada novel ini. Keduanya adalah sepasang kembar buncing, anak dari Nyoman Sika dan Ketut Artini. Adat menganggap kelahiran keduanya adalah aib bagi orang tuanya juga untuk masyarakat Jelungkap. Untuk itu, kedua orangtua beserta Geo dan Bulan harus menjalani sanksi adat guna ‘mensucikan’ aib tersebut.

            Ada empat tahapan dalam prosesi sanksi adat tersebut, pertama mereka harus diasingkan selama 42 hari di Langking Langkau, sebuah desa kecil yang berdekatan dengan kuburan, yang bertujuan ‘mematikan’ aib. Setelah selesai dalam masa pengasingan tersebut, keduanya diharuskan mengikuti upacara malik sumpah, semacam upacara pengakuan kesalahan. Kemudian, yang ketiga adalah harus memisahkan kedua kembar buncing itu untuk sementara waktu agar tidak saling mengenal. Dan yang terakhir, adalah ketika dewasa nanti keduanya harus dinikahkan secara adat. Ketut Artini, sebagai ibu, menganggap sanksi-sanksi tersebut lebih menyakitkan ketimbang pecahnya ketuban pada saat melahirkan.

             Perihal kenapa kembar buncing ini diangaap sebagai suatu aibpun tidak diceritakan dengan jelas. Adat disini berlaku sangat otoriter, tidak kenal apa dan siapa. Semuanya harus tunduk terhadap adat, demi tegaknya keadilan yang tidak jelas parameternya. Masyarakat menganggap ‘kutukan’ ini ada karena akibat dosa dari masa lalu, atau dosa yang dilakukan oleh para leluhurnya. Banyak desas-desus yang beredar di masyarakat, ada yang menyebutkan karena dulunya kakek-nenek Geo dan Bulan adalah seorang PKI. Ada juga yang menyebutkan karena kakeknya pernah mencuri batu permata di salah satu pura. Dan akhirnya Geo dan Bulan harus menanggung dosa tersebut.

Masyarakat juga diharuskan untuk tutup mulut, Geo dan Bulan tidak boleh mengetahui bahwa mereka adalah anak kembar. Kutukan adat berlaku bagi mereka yang berani membocorkan hal tersebut. Bulan pada akhirnya tetap tinggal kedua orang tuanya. Sedangkan Geo, diasuh oleh Gus Eka sahabat Nyoman. Saat dewasa, keduanya sama-sama berkuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Geo di jurusan Antropologi, sedangkan Bulan di Hubungan Internasioanal. Dari sinilah awal mula perjumpaan mereka.

            Setelah lulus, Geo kembali ke Jelungkap dan tinggal di rumah Gus Eka, orangtua angkatnya. Ia mendirikan sebuah perpustakaan dan tempat belajar untuk anak-anak desa. Sedengkan Bulan memilih bekerja di Jakarta dan beberapa tahun berselang barulah ia kembali ke kampung halamannya. Di Jelungkap ini juga benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya, dan kemudian mulai berpacaran. Mulanya penduduk desa tetap bungkam, namun lama-kelamaan merasa risih melihat percintaan sedarah tersebut.

            Permasalah pokok dalam novel ini timbul ketika Jelungkap didatangi oleh perusahaan agropolitan. Perusahaan tersebut datang dengan janji manis akan mensejahterakan kehidupan masyarakat Jelungkap. Pemuda-pemuda kampung akan diberi tempat untuk bekerja di dalamnya. Dengan syarat masyarakat mau menjual tanahnya. Hal ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat adat. Terlebih, diketahui kemudian, banyak aparat atau pemuka adat yang ternyata memanfaatkan momentum ini untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Hal ini semakin diperparah dengan dirubuhkannya pura sisa peninggalan zaman megaliktikum.

            Kemudian terjadi pergolakan pikiran di masyarakat, adat yang dicita-citakan dapat mentertibkan kehidupan bermasyarakat, nyatanya tidak dapat berbuat banyak terhadap perusahaan agropolitan. Bau-bau bahan kimia yang tidak sedap mulai tercium ke seluruh penjuru desa. Adat sesungguhnya bisa saja menolak tawaran dari perusahaan, tapi sekelompok yang membelakangi adat karena ada keperluan pribadi menjadikan adat lumpuh. Masyarakat-masyarakat yang pada akhirnya kontra tidak bisa berbuat banyak, dan menyerahkannya kepada aparat adat.

            Puncak permasalahnnya tentu saja muncul ketika membenturkan fungsi adat saat menyikapi kasus kembar buncing dengan perusahaan agropolitan. Adat menjadi seolah-olah tumpul dengan orang asing, namun menjadi sangat garang dan cenderung keji untuk masyaraktnya sendiri. Pada kasus kembar buncing, sanksi adat berlaku sangat tidak manusiawi. Geo, Bulan dan keluarganya diperlakukan layaknya hewan. Kelahiran kembar buncing ini sendiripun tidak mereka kehendaki dan tidak dapat dihindari. Sedangkan dalam kasus orang asing, adat benar-benar bungkam. Adat sama sekali tidak menentukan sikap, dengan diam-diam terus mendukung perusahaan. Kapitalisme khas perkotaan yang terjadi di Jelungkap tentu saja hanya kisah fiksi, namun dalam realitas di Indonesia sering kita jumpai kasus seperti ini.

            Dalam persepektif penceritaan, Incest menggunakan narator yang bukan tokoh dalam novel. Dan ini menjadi salah satu kelemahan, pembaca tidak bebas membentuk pendapat dan pandangannya sendiri. Warna lokal yang menjadi ciri khas dalam novel pun –menurut hemat saya—agak berlebihan. Bahasa daerah terlalu sering digunakan, hal ini sedikit banyak mengganggu, karena harus memperhatikan catatan kaki untuk memahami maknanya. Beberapa tokoh juga sangat disayangkan tidak memiliki karakter yang kuat. Padahal perannya dalam cerita cukup penting. Kekurangan-kekurangan diatas untungnya dapat ditutupi oleh tema besar yang diangkat oleh si penulis. Dengan mengangkat isu sensitif seperti ini (adat,) si penulis tentunya sudah siap dengan segala konsekuensi yang ada. 

            Melalui novel Incest, I Wayan Artika berhasil membantahkan image Bali yang selama ini diperbincangkan orang banyak: berbudaya, indah, dan tenteram. Incest ini sendiri juga bagian dari Bali itu sendiri, jika banyak orang menganggap Bali indah karena senjanya. Maka Incest adalah Bali selepas senja: Gelap.


Catatan: Sebelumnya sudah pernah dimuat di website LPM Keadilan: http://www.lpmkeadilan.com/?p=1797
Read More

Jumat, 21 April 2017

Gerobak

Sekira 5 jam yang lalu. Dalam perjalanan​ menuju kampus. Aku bertemu pria sekaligus bapak yang menarik gerobak sampah menyeberangi jalan dengan riang gembira. Di ujung jalan telah dinanti ia oleh lelaki sekaligus anak yang menemukan setumpuk botol. Pemandangan yang kadang luput dalam keadaan bahagia. Barangkali, sepasang bapak dan anak itu pun tak akan memperhatikanku yang membawa motor dengan lambat sekali.

Mergangsan, 21 April 2017
Read More

Sabtu, 25 Maret 2017

Semen, NDX, dan Kelahiran 'Kambing' Jokowi



Foto oleh @f_luthi

Presiden setelah sekian lama, (keberanian dan keterbukaannya untuk menemui Petani Kendeng rasanya tak perlu dilabeli secara heroik dan label-label lainnya), pada akhirnya dan memang sudah sewajarnya menemui perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Istana lantas berujar dengan gagahnya.  Saya nukilkan sebagian:

"Tapi juga jangan sampai ke persoalan-persoalan daerah dibawa ke saya, dikit-dikit ke saya, ndak lah." Seperti diberitakan tribunnews.com

Gagah betul memang--untuk tidak menyebutnya tegas dalam ranah tanggungjawab. Maksud blio tentu baik, supaya yang menjadi pintu pertama, mulai dari pejabat daerah sampai menteri, dapat mengendalikan pada mula-mula.

Ini juga bisa berarti, menurut saya, bahwa harus ada yang berani 'mengingatkan' blio bahwa kelahiran dua kambing di Istana yang diunggah di kanal YouTubenya adalah sesungguhnya seekor domba, seperti yang dikatakan Drh. Soeharsono dalam Surat Pembaca Kompas edisi 20 Maret 2017.

Bukan apa-apa, seperti yang blio sabdakan, jangan semua-semua masalah kok di laporkan ke Presiden. Mbok Kabinet Kerjanya ni pada peka gitu lho! Tanggap, kerjakan dan selesaikan sendiri. 

Lagi-lagi, bukannya apa-apa, domba itu pembawa virus penyakit ingusan Malignant Catarrhal Fever (MCF) yang mudah tertular pada sapi, kerbau, dan rusa. Sebagai pembawa virus, domba tidak akan sakit. Virus biasa dikeluarkan oleh domba betina ketika lahiran melalui cairan. Dan, ya, kita berharap kandang rusa di Istana tak berdekatan dengan 'domba-domba' kesayangan Jokowi yang menjadi simbol optimisme, kemudian lanjutnya dalam vlog "di mana ada optimisme, di situ ada kecintaan."

Tapi serius, virus ini berbahaya. Rusa yang tertular virus akan sulit diselamatkan, sebab sampai kiwari belum ada obatnya. Kamu gak mau kan liat rusa-rusa gagah penghuni Istana mati sebab tim belakang layar Presiden luput untuk mengurusi dan menanggulangi.

Tapi serius (lagi), masalah domba ini lebih penting untuk diingatkan pada blio, ketimbang usaha petani-petani yang sudah berjalan kaki sejauh 150 KM demi bertemu Den Dimas Gubernur Jateng, lalu membangun tenda dan camping di depan kantor gubernur berminggu-minggu, menggugatnya secara hukum, dan menang di MA tapi tetap saja tak pernah benar-benar menang melawan pabrik semen.

Iya, betul. Prosesnya itu seenteng komenmu yang bilang "emang gak ada cara lain agar didengar selain mengecor kaki sampai ada yang meninggal juga?" Iya, Mas, Mbak, enteng kok perjuangannya petani-petani Kendeng ini. Siapa sih yang bilang kalau cara-cara perlawanan petani-petani ini susah? Gampang kok, sumpah, tinggal abaikan perjuangan di paragraf sebelumnya.

Pada akhirnya, kepada kita semua, jiwa-jiwa yang lelah dan sok peduli, perlu didendangkan lagu NDX A.K.A dan jangan lupa kirim doa untuk Yu Patmi yang telah berpulang dalam sisa perjuangannya;

"meh sambat kalih sinten yen sampun mekaten, merana uripku
(Ingin marah pada siapa kalau sudah seperti ini, merana hidupku)

[...]

aku nangis nganti metu eluh getih putih
(aku nangis sampai keluar darah putih)"

Panggungharjo, 24 Maret 2017.
Read More

Jumat, 30 Desember 2016

Menjadi Tokoh yang Kamu Idolakan Semudah Onani



Dengan nafas terburu—sembari menjaga ritme berjalan agar tak dicurigai—ia berhasil lolos dari pengawasan. Sebuah buku mantera untuk membangkitkan pemikiran yang sudah mati berhasil didapatkan dengan susah payah. Melewati mesin pendeteksi otomatis, penjaga perpustakaan yang kumisnya menyapu bibir, dan tentu saja dari pantauan ‘orang-orang pintar’ yang sejak lama mengincar buku tersebut. 
 
Buku yang berhasil ia dapatkan dari ruang-ruang gelap perpustakaan kota itu dijaga dengan hati-hati. Dan tentu saja dengan resiko yang tidak tanggung: nyawa menjadi taruhan. Kenekatannya ini bermula dari kegelisahannya terhadap angkatan muda Indonesia masa kini: tak punya gairah, memelihara lingkar lemak, dan hanya pandai membuat sajak-sajak menye untuk kekasihnya yang buruk rupa namun punya bodi aduhai.

Pada dasarnya ia tak punya gairah apapun terhadap dunia pergerakan angkatan muda. Namun, sebab keuletannya menaik-turunkan linimasa jejaring komunikasi, berhasil mengantarkannya pada buku mantera tersebut: Wow, Ketik Amin di Komentar dan Anda Berkesempatan Memenangkan Buku Mantera Abad 20.

Melalui undian, ia terpilih mendapatkan buku sakti. Usut punya usut, yang membuat undian tersebut adalah seorang pustakawan muda dengan mimpi besar namun tak punya nyali barang sedikit pun. Tentu saja ini bertolak belakang dengan tampilannya yang serba pongah—cara bicara, gaya berpakaian, sampai pemilihan warna kontras untuk rambutnya yang diganti setiap bulan. Sebuah keberanian yang hanya muncul dari narsisme semata. Sebetulnya dia bisa saja mempelajari buku terlarang tersebut seorang diri, namun terlampau takut dengan resiko yang akan ditanggungnya seorang diri. Dan dibuatlah janji antara mereka berdua: gudang lantai 10 perpustakaan kota tepat pukul 16.

Seminggu setelah pertemuan, ia berhasil menandas-tuntaskan setiap halaman dari buku mantera. Tidak ada yang terlewat sedikit pun. Tidak ada syarat-syarat khusus untuk dapat mempraktikkan mantera dari buku tersebut. Nyaris tak ada kesulitan yang berarti. Mula-mula dia ingin membentuk dirinya menjadi Chairil Anwar. Tak perlu menunggu lama dan mantera itu memang ampuh adanya: ketika melintasi sebuah upacara pemakaman tetangga, dengan lantang dan berani ia berteriak “mampus kau dikoyak-koyak sepi!” Semua mata seolah terpana pada kelahiran Chairil modern dan serta-merta mengatupkan bibir peziarah yang sedang melapalkan puja-puji.

Aku berhasil menghidupakan kembali pemikiran Chairil, ujarnya dalam hati. Ternyata mantera tersebut tidak hanya berhasil membangkitkan pemikiran saja, namun juga sampai perilaku. Dia tak pernah bisa lagi tidur dengan normal: belum tidur sebelum ayam pertama di kampungnya berkokok. Keberanian yang dimiliki Chairil juga menular padanya. Sutau ketika Ayahnya sedang memimpin rapat pemegang saham, dia menyelonong masuk dan tanpa ada yang berani mencegahnya ia sampai pada samping ayahnya seraya memotong pembicaraan: Maaf, Ayah. Bukann maksudku lancang. Tapi apakah Ayah punya korek?

Ayahnya tak pernah marah atas kejadian itu, justru merasa bersyukur karenanya. Anak ini bisa menjadi lebih besar daripada yang pernah kukira, renungnya saat itu.

Meskipun bisa mengendalikan pemikiran siapa yang akan dibangkitkan, terkadang ia mengalami kesulitan membedakan batas antara dirinya dengan pemikiran yang dibangkitkan olehnya. Semuanya terasa begitu sulit, benang pemisah antara keduanya sangatlah tipis. Namun potensi tersebut berhasil dimanfaatkan untuk menghasilkan laba dari hasil mengirimkan puisi ke berbagai  media masa—dengan nama pena yang berbeda-beda pula. Menjadi penyair secara instan,  tanpa perlu merasakan kerasnya hidup. Oh, betapa hidup yang menyenangkan!
***
Ia tahu dengan pasti, banyak angkatan muda yang bernasib sama dengannya: ingin melakukan hal yang berguna bagi bangsa—atau katakanlah revolusi—namun terlampau malas, bahkan saking malasanya; malas untuk memikirkan kenapa bisa begini malas. 

Jiwa bisnisnya muncul seketika. Ia pergi ke toko buku dan membeli sebanyak mungkin buku dari berbagai jenis: dari yang sastra, sejarah, sains, buku kiri, kanan, tengah, kanan ke kiri-kirian, dan tentu saja buku Tere Liye tak mungkin dilewatkannya; idola semua golongan dan manusia paling produktif abad 20. Ruko strategis milik ayahnya menjadi tempat praktiknya. Prosedurnya mudah saja pasien tinggal datang dan memilih buku untuk memindahkan pemikirannya, atau bisa membawa sendiri  buku yang belum tersedia dan membayar uang panjar sebagai bukti keseriusan. Dan ketika manteranya dirasa berhasil diwajibkan mebayar secara penuh.

Iklan telah disebar ke seluruh penjuru kota, bahkan tv-tv konvensional mengiklankanya secara masif dan serempak: satu jam sekali. Ketika ditanya jargon apa yang akan disertakan, ia dengan mantap berujar:  Menjadi Tokoh Yang Kamu Idolakan Semudah Onani.

Pada hari pembukaan, tujuh ratus lima puluh delapan pemuda-pemudi dengan latar belakang berbeda mengantri di tokonya, agar terlihat pintar dan menjelma tokoh yang diidolakannya. Sebagian besar adalah pemuda-pemudi yang terlampau malas dan saking malasnya sampai malas memikirkan kenapa dia malas, namun punya mimpi yang besar, untuk pasien jenis ini sudah ia duga sebelumnya.

Dan sebagian kecilnya adalah pejabat-pejabat negara—yang  tak punya kemampuan apapun selain lihai menilep uang—yang menginginkan dipercaya oleh rakyat dan bawahannya guna melanggengkan jabatannya. Untuk jenis pasien yang ini tak pernah ia duga sebelumnya. Semuanya keluar dari tempat praktik dengan muka yang sumringah dan tiba-tiba menjelma tokoh yang diidolaknnya masing-masing. 

Ada yang keluar dengan gaya berjalan yang sempoyongan, bertransformasi menjadi Bob Marley. Meskipun sudah lama mati, ternyata masih banyak anak muda yang mengidolaknnya. Salah satu di antaranya mengenakan kaos dengan kuitpannya yang termasyhur “Cintai hidup yang Anda jalani. Jalani hidup yang Anda cintai.” Kemudian ada lagi yang bertransformasi menjadi Soe Hok Gie, golongan yang ini termasuk banyak peminatnya, terutama angkatan muda yang me-nabi-kannya. Kebanyakan keluar pintu dengan wajah optimis, baju di gulung sampai siku, dengan tangan kiri mengepal ke udara.

Namun ada satu jenis yang terlihat aneh dan mencolok, keluar dengan dada busung, jalan ala militer, dan tanpa ragu menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalan. Ternyata ini adalah  golongan pejabat negara yang bertransformasi menjadi Soeharto. Ternyata desas-desus “penak jamanku tha?” adalah benar adanya.

Bisnis yang digawanginya terlampau moncer untuk pendatang baru. Pasien yang datang selalu menunjukan kepuasan. Bahkan beberapa mencoba memodifikasi atau meleburkan antar beberapa pemikir terkenal untuk saling mengisi satu sama lain. Sejauh ini bisnisnya lancar, dia yang mengendalikan semuanya dan tak ada rahasia apapun yang bocor terkait manteranya. Hanya dia yang menguasainya, sejauh ini.

Revolusi sosial tampaknya sedang terjadi, didorong penemuannya atas mantera tersebut. Berbulan-bulan berjalan, ternyata bisnisnya mempunyai implikasi yang sangat besar terhadap sistem kerja dunia. Dia sendiri tak merasa begitu penting pasiennya ingin menjadi apa, selama orang-orang tersebut membayarnya dengan sesuai. Dan poof, semua orang benar-benar menjadi seperti apa yang diinginkannya. Menjadi Stalin, Gandhi, Soedirman, Michael Jackson, John Lennon, David, Beckham, Soekarno, dan berbagai macam tokoh berpengaruh dunia.

Namun sebagaimana revolusi apapun di seluruh pejuru dunia, revolusi selalu menghadapi bendungan yang sangat tinggi dan kokoh. Gejolak yang timbul karenanya menjadi semakin luas. Berbagai pemikiran dan ideologi membenturkan dirinya dan ingin menang sendiri atas nama kaumnya. Namun dia tetap tidak peduli, tugasnya hanya semudah “onani”. Seperti yang menjadi jargon tokonya. Urusan selain itu dia tak bertanggung jawab.
***
Pustakawan muda yang memberinya buku mantera merasa senang dengan keadaan saat ini. Perpustakaan semakin ramai, bukan karena orang sibuk membaca buku. Namun karena sibuk meminjam buku untuk menggandakan pemikiran, bagi mereka yang tak punya uang untuk membeli buku. Si Pustakawan merasa senang bukan kepalang, sampai pada suatu malam dia merasa ada sesuatu yang janggal. Pertemuan singkatnya dengan pemuda di gudang berbulan-bulan lalu ada yang terasa kurang. Dia coba memikirkankanya berkali-kali dan ketika hampir menyerah tiba-tiba saja dia ingat: efek samping dari mantera adalah menghilangkan syahwat atau apapun yang berhubungan dengan nafsu seksual. Seperti halnya jual beli, setiap hal yang dinginkan harus ditebus dengan hal lainnya untuk mengisi kekosongan.

Lima bulan berlalu namun tak ada satupun yang melapor karena kehilangan syahwatnya. Semuanya terasa baik-baik saja. Setiap orang yang bertansformasi menjadi tokoh idolanya tak sempat memikirkan dorongan batiniyah semacam syahwat. Mereka hanya sibuk berfikir dan bergerak. Melanjutkan cita-cita idolanya yang tak selesai karena kalah oleh usia. Tak ada yang menyadarinya kecuali Si Pustakawan Muda dan pasangan-pasangan dari ‘pasien’.

Disamping terjadi pergolakan revolusi sosial yang tak bisa dikatakan kecil, terjadi juga berbagai macam skandal perselingkuhan antar pasanagan dari pasien. Mereka yang ditelantarkan sekian lama oleh pasangannya akhirnya mencari pemuas untuk birahinya. Angka perceraian yang diikuti dengan penelantaran anak melonjak tinggi. Pasien-pasien tak peduli: yang terpenting adalah revolusi.

Pada bulan ketujuh, si Pemuda yang sudah menjelma dukun merasakan suatu kegelisahan di dalam dirinya. Keluarga meninggalkannya, kekasihnya pun demikian. Mereka tak betah tinggal dengan seseorang yang sudah berubah secara sifat dan pemikiran. Dia merasakan kesepian yang begitu dahsyat dan memilih untuk menutup usahanya untuk sementara waktu. Satu-satunya orang yang perlu ditemuinya adalah si Pustakawan Muda. Mereka perlu menyelasaikan suatu hal yang terasa mengganjal. Janji telah dibuat dan mereka bertemu:

“Aku merasa ada suatu hal ganjil dari mantera ini, tapi aku tak tahu itu apa.” ujar si pemuda membuka pembicaraan.

Ada jeda yang cukup lama dan hening menuju pembicaraan selanjutnya.

“Kau betul, sesuatu hal yang meninggalkanmu harus diisi suatu hal yang baru. Seperti jual beli. Begitulah manteranya bekerja. Ketika kau berfikir menjadi sangat rasional kau akan lupa sesuatu yang bernama perasaan, dalam hal ini syahwatmu telah tercerabut keluar.” Si Pustakawan memilih kata-katanya dengan hati-hati.

Kemudian ia melanjutkan, “Aku membaca buku mantera ini berulang kali, namun aku terngiang pada peringatan dari penulisnya, dan sayangnya aku lupa menyampaikannya padamu. Aku sudah memikirkannya berulang kali. Aku tak berani menanggung resikonya sendiri. Pemikiran bisa dikejar dengan belajar, meskipun tidak akan persis atau serupa. Tapi aku tak mau jika syahwat tercerabut dan tak bisa dikembalikan,” ia memberi jeda sebentar. “Resiko yang sangat besar tentu saja, kawanku. Dan maapkan keteledoranku menyampaikannya padamu.”

Si Pemuda tak bisa berkata apapun, dia tahu sesuatu yang kosong padanya adalah syahwat itu sendiri. Namun tak merasakannya sampai seseorang memberitahunya. Mantera itu bisa merubah seseorang menjadi tokoh idolanya, namun tak bisa membawa waktu kembali. Semuanya sudah terlanjur.
***
Ia tak punya jalan keluar bagi permasalahan yang sedang dihadapinya. Dengan putus asa menutup tokonya, memecat seluruh pegawainya, dan menyusun sebuah rencana gila. “Hadapilah kenyataan mahluk-mahluk pemalas. Wahai kita semua!” Dia berteriak-kegirangan setelah menyusun rencananya dengan matang, tak ada seorang pun yang mendengarnya. Kantor sudah sepi-sunyi. 

Malam itu ia berjalan ke perpustakaan kota dengan penuh kebahagiaan. Tidak lupa buku mantera ia taruh di dada laiknya membawa kitab suci. Dengan langkah pasti ia memasuki perpustakaan. Tentu saja ia tak bermaksud mengembalikan buku itu kepada si Pustakawan Muda. Ia hanya perlu menyelesaikan sedikit masalahnya.

Setelah memastikan tidak ada orang di dalam, dia mulai menghidupkan penghitung-mundur-waktu. Satu menit baginya cukup untuk mempersiapkan segalanya. Dia memasukan mesin peledak ke dalam buku mantera dan memeluknya seraya terbaring menengadah langit-langit. Tinggal 20 detik lagi, maka dia, buku mantera, perpustakaan, dan mantera yang masih tersisa akan lenyap bersamaan dengan bom yang akan meledak.

Dan boom!

Semuanya benar-benar lenyap. Perpustakaan itu kini menjadi abu, tak tersisa bekas-bekas kehidupan. Mantera-mantera seketika itu lenyap dan orang-orang pemalas kebingungan, dan seperti biasanya, saking malasnya sampai malas memikirkan kenapa mereka tiba-tiba menjadi bingung. Si Pemuda tak langsung meregang nyawa, meskipun tubuhnya sudah hancur berkeping-keping, sebuah kekuatan menahannya dan suara yang menyerupai Milan Kundera tiba-tiba berngiang ditelinganya—ya, meskipun tidak dapat dikatakan telinga karena sudah hancur bentuknya, tapi itu tetaplah telinga: “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.”


Banguntapan, 16/11/16
Ditulis untuk Sutra (Suka Sastra) Litbang LPM Keadilan 2016
P.S. Cerita “Menjadi Tokoh Yang Kamu Idolakan Semudah Onani” berutang kepada kisah “Bercinta Dengan Barbie” karya Eka Kurniawan dalam Kumcer Deep Space-Blue Testimony dan 17 Cerita Lain.

Read More

Minggu, 25 Desember 2016

‘Sardjana Ngawur’, Guru Para Katak!



#40BukuUntuk2016
(Selesai baca: 31/40)
Hidup di Luar Tenpurung - Benedict Anderson
Marjin Kiri, Yogyakarta Juli 2016.
205 halaman.

Jadi begini, perkenalan dengan Om Ben ini bermula dari tulisan Zen RS di Mojok setahun lalu, Om Ben Anderson dan Arkeologi Persekongkolan dalam Hidup Beta. Tulisan itu menjadi semacam obituari bagi Om Ben. Mula-mula saya belum kenal Ben Anderson secara pemikiran, masih pada taraf sekadar mendengar namanya disebut-sebut.

Tak ada yang aneh dengan tulisan Zen di Mojok, yang membuat saya merasa sedikit bingung adalah kenapa dikirim ke Mojok? Kenapa tak diunggah di blog pribadinya—seperti biasanya. Bukan karena tak cocok gaya tulisan atau kontennya, jelas kalau kedua itu masuk kriteria. Eh, kalau penulis tamu gitu mah enggak mikirin lagi masalah kriteria kan?

Pasca menandaskan tulisan Zen, saya coba mendokumentasikan dalam ‘Muntahan’. Saya beri judul Zen dan Rumahnya. Dalam suatu diskusi tentang sepakbola di kawasan Kaki Merapi, dia berpendapat bahwa kita kudu “menghidupkan rumah masing-masing”, dalam artian tidak perlu sok-sokan menulis ke media lain sedang ‘rumah’ kita sendiri sepi-lenggang. 

Zen—entah secara sadar ataupun tidak—melanggar prinsip“menghidupkan rumah masing-masing”. Melanggar pakem dengan menuliskan seseorang yang mempengaruhi pola pikirnya tentu adalah hal yang spesial. Oleh sebab itu, saya barangkali juga harus mencari tahu siapa dia dan apa-apa saja yang sudah diperbuatnya. Begitu saya mencatatnya.

Dan kali ini giliran saya coba mengenali Om Ben lebih dalam, melalui memoar/otobiografinya yang dinarasikan secara asik ini. Mensengejakan membacanya terlebih dahulu sebeleum menuju yang lain. Membedah cara berpikir pun menilik latar belakangnya.

Benar bahwa Hidup di Luar Tempurung mengambil makna dari peribahasa ‘Ibarat Katak di dalam tempurung’. Ben tak mau menajadi katak di dalam tempurung. Maka dari itu, ia banyak mempelajari bahasa masing-masing negara yang akan menjadi bahan kajiannya.

Mereka belajar keluar dari tempurung, dan mulai melihat langit luas di atasnya. Di sana terbentang kemungkinan untuk berpisah dari egoisme atau narsisme. Penting untuk dicamkan bahwa mempelajari suatu bahasa bukanlah semata-mata mempelajari sarana komunikasi linguistik. Melainkan juga mempelajari cara berpikir dan cara merasa dari suatu kelompok manusia yang bicara dan menulis dengan bahasa yang berbeda dengan kita. Berarti juga mempelajari sejarah dan budaya yang menjadi landasan pemikiran dan perasaan mereka itu, dan dnegan demikian belajar berempati pada mereka. (Hal. 193)

Barangkali, pendapat yang seperti ini muncul mengingat Ben adalah seorang peneliti lapangan. Artinya dia mengobservasi dan meneiliti benda hidup, dan oleh karena itu penting untuk bisa berbicara dalam bahasa yang sama. Pernah kah kau membaca buku dengan terjemahan yang buruk meskipun banyak orang bilang dia penulis bagus? Ya, kesalahannya terletak pada proses penerjemahan bahasa si penulis. Akan berbeda jika tak sama.

Dengan berbahasa ia juga mencoba berbaur dengan lingkuan sekitar. Namun tetap saja, pada masyarakat yang baru terbebas dari kungkungan kolonialisme, orang-orang dengan ras kulit puith akan dipanggil “Tuan” oleh pribumi. Bahkan untuk orang asing yang lebih muda sekalipun. Dengan melihat kemiripan antara warna kulitnya dan kulit hewan albino, maka dia meminta kepada rekan-rekannya untuk dipanggil “bulai” atau “bule”, bukannnya “putih”.

Ben mengatakan ini adala kontribusi kecilnya (tapi awet) dalam berbahasa Indonesia. Sepuluh tahun berselang, seorang kolega “kulit putih” di Australia mengirimi surat sebab tidak suka dengan orang Indo yang rasis sebab dia dipanggil “bule”.  Ben sambil bercanda membalasnya: Kau kan sejarawan ahli Indonesia yang berpengalaman. Berani taruhan $100 kau tak kan bisa mendapati kata bule, dalam arti ‘orang kulit putih’, dalam dokumen apapun sebelum 1963.” Ia tidak berani bertaruh.

Salah satu hal menarik yang perlu saya cari tahu lagi ialah tentang konsep nasionalisme, internasionalisme, dan globalisasi yang dibenturkan Om Ben. Konsepsinya ini muncul dari pengalamannya meneiliti dengan metode interdisipliner,  hingga akhirnya menenelurkan Imagined Communities. Buku yang laik masuk list selanjutnya. Terkait hal ini, begini Ben berpendapat: 

Nasionalisme dan globalisasi memenag punya kecenderungan untuk membatasi pandangan kita dan menyederhanakan perkara. Itu sebabnya yang kian diperlukan adalah percampuran serius dan canggih dari kemungkinan-kemungkinan emansipatif nasionalisme dan internasionalisme. Karena itulah, dalam semangat Walt Kelly dan Karl Marx yang sedang sumringah, saya sarankan slogan berikut ini untuk para peniliti muda:

Katak-katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya kan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia, besatulah! (Hal. 197)

Sebagai seorang peneliti, Om Ben melihat ada beberapa hal yang membantunya: pertama adalah diberkati dengan keakrababan-keakraban yang mendalam dan awet dengan beberapa kolega, yang kerap jauh lebih berharga ketimbang riset sepi perpustakaan. Kedua, ada campur tangan keberuntungan atau kebetulan. Ia merasa sebagai “sardjana ngawur” terlampau banyak keberuntungan yang membantunya maju dalam studi dan menjalani kehidupan.

Membayangkan “keberuntungan” yang dialaminya, saya sendiri jadi teringat salah satu pepatah Latin—yang pada beberapa hari lalu tak sengaja saya buka di internet: Animum fortuna sequitur. Tidak lain Om, Keberuntungan mengikuti sifat keberanaian, Om!


Read More

Sabtu, 24 Desember 2016

Aku Berlari Maka Aku (Akan Terus) Menulis





#40BukuUntuk2016
(Selesai baca: 30/40)
What I Talk Abount When I Talk About Running -Haruki Murakami,
 Bentang, Yogyakarta April 2016.
198 halaman.


Sebuah judul yang terinspirasi dari judul buku lainnya, What We Talk About When We Talk About Love, milik Raymond Carver—penulis yang diidolakan oleh Haruki. Mengibaratkan Lari sebagai Cinta? Ah, yang benar saja? Memangnya tak punya hobi lain yang lebih ‘keren’ sampai begitu fanatiknya? Nah, pertanyaan terakhir adalah yang paling sering diterima Murakami sebagai sesuatu anomali. Baginya mencintai lari bukan sebuah keanehan—seperti yang orang lain stigmakan. Ia hadir sebagai sebuah kecintaan, dan oleh karenanya terkadang melukai hatinya dan pada kesempatan lain membuatnya bergairah.
***
            Saya selalu terkesan kepada orang-orang yang dapat melakukan sesuatu (yang positif) secara konsisten. Misal; orang yang konsisten menjadi pembaca rakus tanpa harus menentukan berapa buku yang harus ia tandaskan selama setahun; Atau orang yang menulis dengan gigih saban harinya tanpa mengabaikan kualitas; Orang-orang yang pergi sembahyang tanpa pernah alpa dan selalu tepat waktu; Juga orang yang masih sempat membikin sarapan, tanpa pernah mengeluh, sebelum waktu kerjanya untuk menyapu jalanan di pagi hari tiba.

            Sesuatu yang coba dituliskan Haruki adalah kerja yang tak mudah—setidaknya banyak orang akan menyerah di tengah jalan. Menjadi penulis—dan ini tentu saja menjadi paket tak-dijual-terpisah  untuk sekaligus menjadi pembaca. Yang pada kedua pekerjaan itu, meskipun terlihat mudah, namun membutuhkan tenaga dan waktu yang banyak. Menjadi pelari—yang tidak hanya sekadar berlari lantas mengunggahnya di media sosial. Bahkan ia kerap mengikuti lari marathon secara rutin. Dan tentu saja mengikuti marathon memaksamu berlatih lari setiap hari, tidak bisa seperti ajakan kencan yang bisa kapan saja dilakukan alias dadakan. Ya, kalau kekasihmu tak bisa diajak kencan secara dadakan, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya..

            Meskipun tak banyak dari kesibukan pribadinya yang diceritakan, tapi tentu itu adalah hal yang sangat melelahkan. Bahkan Haruki selalu berlari pada pagi hari, artinya dia mempunyai siklus tidur “normal”,  menurut kebanyakan orang.  Jika dihitung-hitung ia, kurang-lebih, berlari 10 km setiap harinya. Entahlah saya tak dapat mengira berapa waktu tempuhnya. Sebagai sebuah perbandingan, saya butuh waktu paling cepat 25 menit untuk jarak 3 km, itu pun dengan napas tersendat.

            Bagi Haruki, berlari setiap pagi tak ubahnya ajang memanaskan otot, sebelum nantinya ikut lari jarak jauh. Sama seperti menulis novel, tak bisa jika langsung sekali duduk, perlu ada persiapan yang matang dan panjang. Jangan bayangkan Haruki selalu mencapai garis akhir saat berlomba, dia sendiri mengakui kadang  kalah oleh musuh terbesarnya: dirinya sendiri, terkadang kondisi tertentu tak mampu membuatnya berlari secara maksimal. Begitupun dengan novel-novel yang ditulisnya.

“Menulis novel memiliki kemiripan dengan melakukan maraton penuh. Secara mendasar aku bisa mengatakan bahwa bagi seorang kreator, motivasi adalah hal yang nyata dan tersimpan di dalam diri, bukan hal yang memiliki bentuk atau tuntutan dari pihak lain.”

Tidak hanya marathon, Haruki bahkan kerap mengikuti lomba triatlon internasional, berlari-bersepeda-berenang secara berurutan dalam waktu yang sama. Bisa jadi, bagi sebagian orang ini adalah hal yang biasa, hanya perlu latihan fisik. Lalu bagaimana jika berlari dan menulis dilakuakan secara rutin dan bersamaan? Kalau haruki bilang sih ini perkara “Minat”: Jika seorang memiliki minat pada lari jarak jauh, tanpa disuruhpun mereka akan mulai berlari sendiri. Jika mereka tidak berminat, sebanyak apapun ajakannya akan percuma saja.

Saya lebih banyak tahu penulis yang tidak punya pola hidup sehat, atau katakanlah mati karena memelihara penyakit, ketimbang sebaliknya—seperti Haruki misalnya. Membayangkan seorang penulis yang mati muda karena penyakitnya, saya menjadi terbayang Chairil Anwar, tidak bisa tidak. Mengenai gaya hidupnya, Sapardi dalam “Chairil Anwar Kita” menulis begini: Kematiannya itu, yang umumnya dipandang sebagai akibat kehidupannya yang bohemian, menyebabkan gambaran tentrangnya sebagai “binatanag jalang” tidak pernah berubah.Rekan-rekannya dikarunai umur lebih panjang, suatu hal yang tentu bisa menggeser-geser gambaran masyarakat tentang mereka.

Tentu saja dalam konteks ini kita perlu memisahkan sebauh konsep tentang takdir. Entah bagaimana, saya terbayang konsep “aku berlari maka aku (akan terus) menulis” selepas membaca tuntans memoir tipis dari Haruki ini. Tentu saja ada penulis yang hanya berolahraga ringan—misal membakar sampah seperti Pram—yang mendapat karunia umur panjang dan produkitf dalam menulis. Yang, ya,  walaupun dalam keadaan sakit parahnya, dan menjelang mangkatnya minta dibakarkan tembakau.

Pram sendiri menyadari betapa pentingnya olahraga bagi kegiatan kepenulisannya. “Olahraga membikin tubuh jadi lentur, tidak kaku, tubuh yang kaku adalah sama dengan batang kayu yang telah lapuk, bila ditekuk dia patah. Juga tidak ada guna kepandaian kalau orang tidak bisa menggunakan karena kesehatan tidak mengijinkan. " tandasnya.

            Nyaris mustahil membayangkan seorang penulis sekaligus pelari, dan keduanya memiliki makna yang betulan. Artinya dilakukan secara serius dan konsisiten. Siapa sih yang tidak ingin menjadi sekonsisiten Haruki dalam berlari dan menulis dan setumpuk kegiatan lainnya yang saling menopang?
***
Sebagai sebuah memoir singkat, Haruki dengan entengnya menutup bukunya ‘hanya’ dengan harapan jika nanti mati, ia ingin nisannya diukir kata-kata ini:

Haruki Murakami
1949-20**
Penulis (dan Pelari)
Setidaknya Dia Tidak Pernah Berjalan Hingga Akhir

P.S. Ditulis untuk #40BukuUntuk2016, sebab instagram tak lagi nyaman untuk teks panjang. Entahlah--atau memang dasarnya saja gak rampung-rampung kalau bikin resensi sambil bersosmed ria.
Read More