Senin, 01 Januari 2018

Bukan Surel, tapi Tetap Pesan




Halo kawanku. Seperti yang sudah kubilang: aku gak janji bisa cepat, tapi semoga dekat-dekat ini surel “thereal”-mu membunyikan semacam pemberitahuan.
 
Aku tahu bakal menulis dengan amat buruk, meskipun memang aku tak pernah menulis ‘bagus’, tapi sadar betul bahwa berbulan-bulan menandaskan segelintir buku hanya menyisakan remah-remah kosa kata dan tata bahasa yang buruk. Kalimat yang diulang-ulang, kata tak efektif dinani, gaya penulisan yang buruk, terburuk dari yang paling mungkin.

Tapi bukan itu barangkali poin yang ingin kusampaikan. Eh omong-omong karena semua orang boleh baca ini, tentu saja jika hanya mereka mau, maka tulisan ini barangkali akan banyak menggunakan kata bias dan seluas yang aku bisa.

Tapi janji tetaplah janji. Bahwa jika benar kado yang kukasih hanya dilumat jika ada ‘surat pengantarnya’, maka bisa dipastikan tahun baru adalah waktu yang tepat untuk membaca.

Barangkali akan lebih banyak curhatku—eh catatan maksudku biar agak keren. Ya ini emang bukan semacam surat untuk orang yang berulang tahun, tapi juga surat untuk merayakanku juga. Semoga kamu mengerti.

Aneh, saat orang-orang sepantaranku (lebih tepat disebut sepantaran karena faktanya kami tak seusia) menyusun penelitian ilmiah, mondar-mandir betulin dasi dan sepatu formal. Aku masih saja menenteng komputer jinjingku dan menulis hal-hal yang model begini. Saat orang-orang menyelempangkan gelar-gelar intelektualnya, aku masih saja menaik turunkan sarung dan media sosialku sembari sesap kopi sana sini.

Surat ini tadinya mau aku garap dalam KRL Jakarta yang sepi, dari gawai saja, singkat dan ringkas. Ah tapi meskipun sepi, pikiran yang berkelindan satu sama lain justru menahan jempol kanan lalu jempol kiri. Banyak hal sudah menumpuk di kepala dan menuntut di sampaikan tapi lenyap begitu saja seiring masa.

Aku tidak tahu apakah fase-fase yang kualami juga dialami oleh orang lain, tapi rasa-rasanya semua orang pasti bertemu fase ini. Eh bukankah itu tak begitu penting dan tak akan pernah habis ya? Laiknya instastory kawan-kawan kita yang kalau diputar satu persatu rasa-rasanya tak usai-usai dan apakah memang sedemikian pentingnya untuk kita konsumsi?

Barangkali tidak tepat juga mengasingkan diri dari garda maya. Memilih dengan sadar untuk tak mempunyai paket internet. Bukan karena media sosial tentu saja, tapi kebutuhan yang lebih utama macam cari bahan, pesan kendaraan online, atau pekerjaan-pekerjaan tertentu.

Mengasingkan diri dengan memaksa terlalu jauh nampaknya juga tak bagus-bagus amat. Bukan alasan idealis macam mau mendewasakan diri dengan berhenti membagikan segala hal juga sih, atau abstain dari runyamnya media sosial yang penuh kebencian. Ini hanya agar dapat semacam pandangan alternatif saja. Agar tak melulu memandang sesuatu secara ideal-seolah-olah-hanya-itu tapi juga melihat hal-ihwal yang berpijak pada kenyataan.

Eh ngomong-ngomong, di tanggal yang sama dua tahun lalu aku coba cari untung dari kain bekas, dan membeli sedikit kado untuk merayakannya, kamu bilang, “Menulis tentang hobi, sebagai salah satu cara merayakan hari lahir?”

Bisa jadi memang begitu, aku tak akrab dengan perayaan-perayaan seperti kebanyakan, mengaduk telur, mengikatnya pada lilin, dan meniupkan harapan-harapan. Apa boleh bikin, yang bisa kulakukan dan akrab bagiku ya kulakukan.

Sedangkan tahun lalu di bulan yang sama aku susah payah ‘berusaha’ tandaskan kewajibanku, banting sana bunting sini. Tapi nyatanya masih kurang satu juga. Alih-alih ‘merayakannya’ seperti dua tahun lalu dengan gembira, aku justru mencari kota yang orang-orangnya tak (ingin) kukenali. Kota dimana aku sedang menuliskan ini sekarang.

Tahun lalumampir kota ini dengan uang pas-pasan sok-sokan tahun baruan di kota orang. Cari waktu sendiri menyelesaikan ‘kewajiban’—yang cenderung dikebut sih sebetulnya. Bermalam di warnet dan diusir karena ketiduran saat billnya habis; salat duha hanya supaya kemudian bisa tidur-tiduran; jalan kaki disini memang cukup mengesankan karena trotoarnya yang lebar; berbincang dengan orang-orang asing juga jadi agenda penting.

Paling berkesan saat menyaksikan petani-petani Kendeng yang bermukim di depan kantor gubernur dan tak pernah (mau) tahu kalau malam ini akan ada perayaan tahun baru. Berbeda rasanya jika bersolidaritas dari dekat, merasakan langsung seberapa sentimennya berbicara lantang karena benar tapi tak sedikit pun digubris.

Semangat kolektif ciri pergerakan di Indonesia. Maksudku, coba hanya satu dua orang yang bertahan disana sampai berbulan-bulan, apakah akan tetap punya semangat yang sama atau sebaliknya? Kenapa sih orang-orang Indo ini mentalnya keroyokan? Haha. Semisal ditinggal sendirian sudahlah kalut semua jalan. Tak ada sparing partner dan wadah berbagi keluh. Barangkali semua juga bakal sampai pada ‘fase’-nya.

Eh kenapa bahas itu yak? Haha.

Ngomong-ngomong soal petani, dulu saat kita edit bahasa tulisanku soal regenerasi petani, kamu tiba-tiba nyeletuk: ini kamu nulis model begini memangnya kamu mau jadi petani?

“Oh iya dong. Harus itu. Masak iya negara agraris gini cita-citamu bukan jadi petani? Masa kamu gak malu impor melulu.” Tadinya mau kujawab gitu, tapi yang keluar di mulut berbeda, “iya dong, hehe.”

Mungkin sulit bagi banyak orang sepertiku yang kadung kenal dan peduli dengan pertanian di usia yang serba tanggung begini. Saat dulu kecil kebanyakan dari kita tak pernah (bisa) berpikir bagaimana jadinya negeri ini tanpa ada petani. Yang ada di pikiran hanyalah “sawah adalah tempat yang asik untuk bermain, tapi untuk kerja enggak banget lah!”

Lagipula siapa yang mau jadi petani dengan laba tak menentu yak? Omong kosong kedaulatan pangan.

Kawanku yang baik, meskipun memang bukan olehmu aku mulai menulis. Tapi fakta bahwa dalam perjalanannya aku dapat masukan dan ‘kompetisi’ demikian banyak untuk menulis darimu adalah fakta yang tak dapat dipungkiri. Jika pun tulisan ini tak dapat menimbulkan ucapan terima kasih, maka biarkan ia mencari bentuknya sendiri—yang semoga menyerupai.

Lagi-lagi berbicara petani aku jadi kepikiran soal benih. Apalagi yang kamu bilang soal “hobi nebar benih” itu mengiang-ngiang sih. Dan sudah kupikirkan masak-masak soal saranmu supaya aku ganti lakon. Sampe sini aku malah dapet kesimpulan, kalau misalkan aku petani, pasti jago bener untuk urusan tebar benih. Ya, seenggaknya aku udah mulai belajar tebar benih secara serampangan.

Oiya barangkali ini bukan kali pertama perjalanan ke kota orang yang gak kukenal dan berkelana sendirian. Dan sepertinya kita juga banyak tidak sepaham akan banyak hal (dan kalimat sebelum ini terlalu banyak memuat kata ‘banyak’, pemborosan dan pasti bikin kamu gergetan bukan?) tapi itu wajar dan bagus. Nah mungkin untuk kali ini aku (coba) sepakat sama apa yang kamu bilang. Sekaligus nutup surat ini;

“I need new city for new journey: new people to become stranger: new situation for crying all night.”

Jogja-Semarang, 23-31 Desember 2017
Read More

Sabtu, 18 November 2017

Leler!

Kita adalah sisa kesia-siaan. Kau dan aku, adalah sebuah omong kosong yang parak. Aku tak menginginkanmu adalah mantra yang selalu kauulang pada desir angin. Pada semua cahaya yang kauredupkan.

Aku dengan sikap bodoh yang tak kunjung purna membelimu dari gerai yang hanya kuingat tanggalnya. Kurogoh duit dari dompet yang berusaha tidak terlihat ringkih di hadapan orang-orang yang tak dikenali. Sedangkan kau selalu saja menghardik pot yang kurang besar, hari-hari yang sepi, dan gatal pada pukang. Sialan.

Jangan sedih soal nasib, nasib burukmu atau nasib sangatmu. Nasib ialah kesunyiannya masing-masing, kata seorang penyair. Bagi pencair dana asuransi, nasib adalah pekerjaan rumah siswa Finlandia.

Dosa-dosa bikin sulit, tapi doa menguatkan. Gusti mboten sare sabda sebuah kendang pada mikropon yang tak berbasah-basah dalam bahasa. Kopi-kopi bersikeras meninggalkan rumah peribadatan, anggur-anggur masuk dan mengambil lakon tersisa. Kau bisa terus berdoa tanpa menghardik sikap kopi, merayakan rasa yang tunggal, merasakan asa yang tinggal.

Jika mampu, kau boleh sebar benih-benih kopi pada ingatan yang tak kauanggap perlu. Ingat, jika kau mampu, sebab menanam bukan ritus dan penyakit-penyakit yang perlu kau hindari dengan hidup sehat.

Akan kuberi kau nama kaktus, jika pun kau sanggup bicara dan menolaknya. Aku akan bersikukuh pada apa yang kupercayai, bukan pada apa yang "benar". Aku bukan kaktus dan tak ingin menjadi kaktus adalah kata sandi warung kopi yang pelit dan pahit.

Kata sandi bukanlah kata-kata yang seperti ular, seperti hutang, seperti tenggat. Bukan. Ia bukan lah kata-kata yang selalu kauceramahkan padaku usai khotbah di ruang-ruang berpendingin udara.

Ibarat dendam, duri dan rindumu menancap keluar, alih-alih menusuk dirimu ke sunyi dalammu. Ibarat bahagia, selalu simpan sakit bagi lainnya. Air kau hindari agar kering matamu dari hal-hal yang belum lunas-tandas.

Tapi bukan kah kita selalu begitu dalam menafsir; kebenaran adalah--selalu--apa yang kita percayai benar, bukan apa yang benar.

Mantrijeron, 2017.
Read More

Sabtu, 28 Oktober 2017

Dua Enam

Menunggu lampu merah, Kakek pembawa sepeda coba membuka pembicaraan dengan pengendara di sampingnya. Jawabannya tak begitu terdengar. Tapi simpul di wajahnya menunjukkan semacam rasa bahagiya.

Polisi di depan masih saja memberi sinyal untuk tetap menunggu. Padahal ini​ tengah malam. Ada rombongan mobil yang melaju kencang dan dikawal banyak polisi.

Ketika rombongan habis, lampu menunjukan hijau, polisi tak memberi aba-aba untuk jalan. Klakson saling bersahut, si Kakek bersedia dan coba melaju. Ternyata belum diperkenankan berkelabat. Hampir dia tersungkur.

Selepas itu si Kakek masih saja menunjukkan simpul pada wajahnya. Pengendara di sampingnya masih saja tak menyahut. Seolah tak terjadi apapun. Lalu polisi kembali ke posnya. Lampu merah normal kembali.

Malam ini aku menempuh jarak yang sebetulnya tak jauh-jauh dan capek-capek amat. Empat puluh kilometer pulang-pergi. Menghadiri janji yang tak penting-penting amat. Tidak perlu pula mengayuh atau berpikir yang sukar-sukar. Kepala hanya berisi ocehan yang itu-itu melulu.

Ah, dan tulisan ini juga tak kan berarti apa-apa untuk kakek pengendara sepeda dan bapak-bapak yang melaju kencang seraya dijaga ketat sirene-sirini. Juga, untuk kau baca, dan kutulis. Tak ada yang benar-benar berarti seperti yang sering kita bicarakan.

Panggungharjo, 2017.
Read More

Panduan (Menjadi) Diktator

Il Principle - Niccolo Machiavelli
Narasi, Yogyakarta, 2008.
184 halaman.
"Harus diingat bahwa manusia harus dicintai atau dihancurkan; mereka akan menuntut balas dendam atas luka ringan mereka, namun mereka tidak akan dapat melakukan hal serupa apabila mereka terluka parah. Oleh karena itu, luka yang kita sebabkan haruslah sebesar-besarnya sehingga kita tidak harus takut akan balasan mereka." (Hal. 26)
 
"...namun dia yang diangkat menjadi pangeran oleh kehendak rakyat banyak akan menemukan dirinya tidak memiliki teman dan tidak memiliki seorang pun, atau hanya memiliki sedikit orang yang tidak siap untuk mematuhi perintahnya." (Hal. 74)
 
***
Pada sampul depan buku ini ditulis: "buku pedoman untuk para diktator." Namun menurut hemat saya, diktator tak memerlukan buku pedoman. Diktator terlahir untuk membunuh dirinya sendiri, tanpa takut ada yang melarang dan menghadang, bahkan hati kecilnya juga tak 'kan mampu menolak.
 
Stalin, Lenin, dan Napoleon kabarnya juga membaca buku ini. Bahkan nama terakhir yang disebut, membawanya sampai ke tempat tidur dan menaruhnya di bawah bantal --yang notabene adalah tempat paling privat sang diktator. Lalu, sehebat apa buku ini sehingga dapat menyusup ke tempat paling suci para diktator?
 
Saya kira para diktator memang dilahirkan untuk menentang takdirnya sendiri. Mereka tidak hanya terdiri jiwa dan raga, tapi ditambah satu: ego sang diktator.
 
Oleh sebab itu, buku yang ditulis seorang pegawai negeri pada masa sekitar 1513 ini hanya menjadi semacam dongeng pengantar tidur saja. Yang membantu mereka sedikit berbahagia sembari menunggu kantuk menyerang.
 
Buku ini banyak membahas pasal pangeran (dan cara-cara menjadi pangeran), lalu kerajaan (beserta bentuk-bentuknya), dan lainnya mungkin pengalaman-pengalaman pangeran terdahulu yang dicupliknya. Namun yang menjadi menarik di sini adalah pembahasaan yang digunakan. Semua diterangkan secara lugas dan tidak diplomatis.
 
Oleh sebab itu, saya berani membayangkan para diktator itu akan terkekeh saat membacanya lembar demi lembar. Mereka akan tertawa saat apa yang dibacanya memang benar adanya. Misal tentang bagaimana suatu negara yang keamanannya nisbi bobrok dan mudah ditaklukan --melalui bangsawannya yang berkhianat. Mereka akan mengenang masa-masa indah tersebut.
 
Terlepas dari itu semua, saya kira, apabila para diktator membaca buku Il Principle versi terbitan ini; tidur mereka tidak akan nyenyak; terjemahannya terlampau buruk.
Read More

Tak Sekadar Corat-coret

Corat-coret di Toilet - Eka Kurniawan
Penerbit GPU, Jakarta, April 2014.
125 halaman.
Saya terpaksa membelinya sebab perbincangan yang lalu dengan teman si penulis buku ini, membikin diri kepalang penasaran. Saya diceritakan dari mana berasalnya kisah Peter Pan--yang menjadi cerpen pembuka di buku ini-- dan siapa kiranya mahluk yang menginspirasinya. Mahluk yang tak kunjung lulus dari kampus selama lebih-kurang 20 tahunan. Bukan karena tak mampu lulus. Tapi dia memang tak mau.

"Pada waktu itu ia sudah dipanggil dengan nama Peter Pan, si tokoh dongeng yang konon tak pernah mau dewasa... ...Bertahun-tahun ia tak juga lulus kuliah, bahkan ketika Tuan Puteri menyelesaikan tingkat doktoral, ia belum juga mendapatkan gelar sarjana. Orang kemudian menuduhnya tak mau menjadi tua, ingin tetap menjadi mahasiswa, tetap merasa berumur belasan tahun dan karenanya ia mulai dipanggil Peter Pan." (Hal. 5)

Hingga akhirnya keberadaan Peter Pan tak ada yang tahu di mana, sebab terlampau sibuk dengan aktifitas politiknya: berjuang melawan pemerintahan yang diktator. Di akhir cerita Tuan Puteri berujar sembari menghibur diri sendiri: "Sebagaimana sering kita baca di novel dan komik. Penjahat  besar yang keji, bengis, kotor dan bau neraka memang susah dikalahkan dan susah mati." Siapa penjahat besar yang dimaksud Tuan Puteri, kupikir aku tak perlu menuliskannya. (Hal. 10)

Corat-coret di Toilet adalah sebuah cerita pengantar tidur, yang karena intisari ceritanya malah bikin otak bekerja lebih keras. Dan karena bahasanya, terdengar laiknya kisah dongeng nomer wahid untuk anak-anak di seantero negeri, bukan karya sastra yang sarat akan kritik. Melewatkan, untuk membacanya, di waktu senggang adalah sebuah kenistaan
Read More

Perihal Perawan Remaja dan Janji Studi yang Tak Ditepati


Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer - Pramoedya A. Toer
KPG, Jakarta, Agustus 2015.
248 halaman.


Aku perlukan menghela nafas panjang selepas membaca buku ini. Ahhhh.. Spontan dan kontan. Surat-surat yang disusun Pram untuk Perawan Remaja begini getir. Bercerita melulu tentang kesedihan dan penderitaan.

Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer merupakan sekumpulan tulisan yang diramu Pramoedya A. Toer dari hasil penelitiannya dan beberapa catatan teman, sesama buangan di Pulau Buru. Menceritkan kisah pilu Perawan Remaja yang dijadikan wanita penghibur pada masa penjajahan Nippon hingga akhirnya dibuang begitu saja di Pulau Buru.

Mereka, Perawan Remaja, yang pada mulanya dijanjikan melanjutkan studi di Tokyo dan Singapura itu telah ditipu, mereka diasingkan di rumahnya sendiri dan dan dijadikan pemuas hasrat bala tentara Jepang. Ada yang diberangkatkan karena sukarela, adapula yang dalam tekanan orang tua yang berada dalam bayang-bayang Jepang. "...Dapat diduga sebagaian terbesar perawan remaja yang diangkut oleh Jepang itu telah mati dalam pemderitaan, tanpa disaksikan oleh orang-orang yang dikasihinya, tidak pernah mendapatkan kesempatan belajar sebagaimana dijanjikan, dan mati di negeri yang jauh." (Hal. 20.) Ah, betapa kabar pilu yang menyakitkan ini harus kudengar.

Melalui buku ini pula Pram menggugat pemerintahan Jepang untuk bertanggung jawab atas 'kejahatan perang' yang telah diperbuatnya. Pun mengingatkan pemerintah Indonesia untuk melakukan tindakan barang sedikit. Walaupun ia sendiri menyadari ketidak-mauan Jepang bertanggungjawab adalah keteledoran dari pemerintah Indonesia sendiri:

Alasan pertama adalah Indonesia sebagai pihak penggugat belum memiliki bahan otentik untuk menggugat. Yang kedua adalah saat itu Indonesia sedang terlibat dalam perjuangan senjata untuk mempertahankan kemerdekaanya. Ketiga saat itu republik Indonesia yang masih sangat muda masih mengalami pertentangan kepartaian yang berlarut-larut. Dan yang terakhir mengenai keteledoran dari pihak RI sendiri. Alasan di atas membuat Jepang berhasil lepas dari tanggung jawab terhadap perbuatan yang telah dilakukannya.

Pada bagian lain ia pun menambahkan: "Adalah mengherankan bahwa Jepang yang semasa kekuasaanya mengajarkan semangat satria, semangat bushido, dalam praktek tidak berani bertanggungjawab menerima akibat perbuatan sendiri." (Hal. 22)

Perawan remaja yang menjadi buangan itu bukannya tidak mau pulang ke kampung halamannya masing-masing. Ada yang sudah terlanjur terikat oleh adat Alfuru, suku di pedalaman Buru. Tak sedikit pula yang tak mau pulang sebab merasa malu dan terlamapu hina. Lebih banyak sebab ketakutan yang terus menghantui dan trauma yang amat mendalam.

Semoga "Janji Indah" yang ditulis di pembuka buku menjadi kenyataan. "..Dan impian itu bisa menjadi padat, menjadi cita-cita. Dan cita-cita itu menjadi pola yang menjadi dasar dan petunjuk dari perbuatan." Tabik, Mbah.
Read More