Aku tahu bakal menulis dengan amat buruk, meskipun
memang aku tak pernah menulis ‘bagus’, tapi sadar betul bahwa berbulan-bulan
menandaskan segelintir buku hanya menyisakan remah-remah kosa kata dan tata
bahasa yang buruk. Kalimat yang diulang-ulang, kata tak efektif dinani, gaya
penulisan yang buruk, terburuk dari yang paling mungkin.
Tapi bukan itu barangkali poin yang ingin
kusampaikan. Eh omong-omong karena semua orang boleh baca ini, tentu saja jika
hanya mereka mau, maka tulisan ini barangkali akan banyak menggunakan kata bias
dan seluas yang aku bisa.
Tapi janji tetaplah janji. Bahwa jika benar kado
yang kukasih hanya dilumat jika ada ‘surat pengantarnya’, maka bisa dipastikan
tahun baru adalah waktu yang tepat untuk membaca.
Barangkali akan lebih banyak curhatku—eh catatan
maksudku biar agak keren. Ya ini emang bukan semacam surat untuk orang yang
berulang tahun, tapi juga surat untuk merayakanku juga. Semoga kamu mengerti.
Aneh, saat orang-orang sepantaranku (lebih tepat
disebut sepantaran karena faktanya kami tak seusia) menyusun penelitian ilmiah,
mondar-mandir betulin dasi dan sepatu formal. Aku masih saja menenteng komputer
jinjingku dan menulis hal-hal yang model begini. Saat orang-orang
menyelempangkan gelar-gelar intelektualnya, aku masih saja menaik turunkan
sarung dan media sosialku sembari sesap kopi sana sini.
Surat ini tadinya mau aku garap dalam KRL Jakarta
yang sepi, dari gawai saja, singkat dan ringkas. Ah tapi meskipun sepi, pikiran
yang berkelindan satu sama lain justru menahan jempol kanan lalu jempol kiri.
Banyak hal sudah menumpuk di kepala dan menuntut di sampaikan tapi lenyap
begitu saja seiring masa.
Aku tidak tahu apakah fase-fase yang kualami juga
dialami oleh orang lain, tapi rasa-rasanya semua orang pasti bertemu fase ini.
Eh bukankah itu tak begitu penting dan tak akan pernah habis ya? Laiknya
instastory kawan-kawan kita yang kalau diputar satu persatu rasa-rasanya tak
usai-usai dan apakah memang sedemikian pentingnya untuk kita konsumsi?
Barangkali tidak tepat juga mengasingkan diri dari
garda maya. Memilih dengan sadar untuk tak mempunyai paket internet. Bukan
karena media sosial tentu saja, tapi kebutuhan yang lebih utama macam cari
bahan, pesan kendaraan online, atau pekerjaan-pekerjaan tertentu.
Mengasingkan diri dengan memaksa terlalu jauh
nampaknya juga tak bagus-bagus amat. Bukan alasan idealis macam mau
mendewasakan diri dengan berhenti membagikan segala hal juga sih, atau abstain
dari runyamnya media sosial yang penuh kebencian. Ini hanya agar dapat semacam
pandangan alternatif saja. Agar tak melulu memandang sesuatu secara
ideal-seolah-olah-hanya-itu tapi juga melihat hal-ihwal yang berpijak pada
kenyataan.
Eh ngomong-ngomong, di tanggal yang sama dua tahun
lalu aku coba cari untung dari kain bekas, dan membeli sedikit kado untuk
merayakannya, kamu bilang, “Menulis tentang hobi, sebagai salah satu cara
merayakan hari lahir?”
Bisa jadi memang begitu, aku tak akrab dengan
perayaan-perayaan seperti kebanyakan, mengaduk telur, mengikatnya pada lilin,
dan meniupkan harapan-harapan. Apa boleh bikin, yang bisa kulakukan dan akrab
bagiku ya kulakukan.
Sedangkan tahun lalu di bulan yang sama aku susah
payah ‘berusaha’ tandaskan kewajibanku, banting sana bunting sini. Tapi
nyatanya masih kurang satu juga. Alih-alih ‘merayakannya’ seperti dua tahun
lalu dengan gembira, aku justru mencari kota yang orang-orangnya tak (ingin)
kukenali. Kota dimana aku sedang menuliskan ini sekarang.
Tahun lalumampir kota ini dengan uang
pas-pasan sok-sokan tahun baruan di kota orang. Cari waktu sendiri
menyelesaikan ‘kewajiban’—yang cenderung dikebut sih sebetulnya. Bermalam di
warnet dan diusir karena ketiduran saat billnya habis; salat duha hanya supaya kemudian
bisa tidur-tiduran; jalan kaki disini memang cukup mengesankan karena
trotoarnya yang lebar; berbincang dengan orang-orang asing juga jadi agenda
penting.
Paling berkesan saat menyaksikan petani-petani
Kendeng yang bermukim di depan kantor gubernur dan tak pernah (mau) tahu kalau malam
ini akan ada perayaan tahun baru. Berbeda rasanya jika bersolidaritas dari dekat,
merasakan langsung seberapa sentimennya berbicara lantang karena benar tapi tak
sedikit pun digubris.
Semangat kolektif ciri pergerakan di Indonesia.
Maksudku, coba hanya satu dua orang yang bertahan disana sampai berbulan-bulan,
apakah akan tetap punya semangat yang sama atau sebaliknya? Kenapa sih
orang-orang Indo ini mentalnya keroyokan? Haha. Semisal ditinggal sendirian
sudahlah kalut semua jalan. Tak ada sparing
partner dan wadah berbagi keluh. Barangkali semua juga bakal sampai pada
‘fase’-nya.
Eh kenapa bahas itu yak? Haha.
Ngomong-ngomong soal petani, dulu saat kita
edit bahasa tulisanku soal regenerasi petani, kamu tiba-tiba nyeletuk: ini kamu
nulis model begini memangnya kamu mau jadi petani?
“Oh iya dong. Harus itu. Masak iya negara agraris
gini cita-citamu bukan jadi petani? Masa kamu gak malu impor melulu.” Tadinya
mau kujawab gitu, tapi yang keluar di mulut berbeda, “iya dong, hehe.”
Mungkin sulit bagi banyak orang sepertiku yang
kadung kenal dan peduli dengan pertanian di usia yang serba tanggung begini.
Saat dulu kecil kebanyakan dari kita tak pernah (bisa) berpikir bagaimana
jadinya negeri ini tanpa ada petani. Yang ada di pikiran hanyalah “sawah adalah
tempat yang asik untuk bermain, tapi untuk kerja enggak banget lah!”
Lagipula siapa yang mau jadi petani dengan laba tak
menentu yak? Omong kosong kedaulatan pangan.
Kawanku yang baik, meskipun memang bukan olehmu aku
mulai menulis. Tapi fakta bahwa dalam perjalanannya aku dapat masukan dan ‘kompetisi’
demikian banyak untuk menulis darimu adalah fakta yang tak dapat dipungkiri. Jika
pun tulisan ini tak dapat menimbulkan ucapan terima kasih, maka biarkan ia
mencari bentuknya sendiri—yang semoga menyerupai.
Lagi-lagi berbicara petani aku jadi kepikiran soal
benih. Apalagi yang kamu bilang soal “hobi nebar benih” itu mengiang-ngiang
sih. Dan sudah kupikirkan masak-masak soal saranmu supaya aku ganti lakon.
Sampe sini aku malah dapet kesimpulan, kalau misalkan aku petani, pasti jago
bener untuk urusan tebar benih. Ya, seenggaknya aku udah mulai belajar tebar
benih secara serampangan.
Oiya barangkali ini bukan kali pertama perjalanan ke
kota orang yang gak kukenal dan berkelana sendirian. Dan sepertinya kita juga
banyak tidak sepaham akan banyak hal (dan kalimat sebelum ini terlalu banyak
memuat kata ‘banyak’, pemborosan dan pasti bikin kamu gergetan bukan?) tapi itu
wajar dan bagus. Nah mungkin untuk kali ini aku (coba) sepakat sama apa yang
kamu bilang. Sekaligus nutup surat ini;
“I
need new city for new journey: new people to become stranger: new situation for
crying all night.”
Jogja-Semarang,
23-31 Desember 2017





