#40BukuUntuk2016
(Selesai baca: 31/40)
Hidup di Luar Tenpurung - Benedict Anderson
Marjin Kiri, Yogyakarta Juli 2016.
205 halaman.
Jadi begini, perkenalan dengan Om Ben ini bermula dari
tulisan Zen RS di Mojok setahun lalu, Om
Ben Anderson dan Arkeologi Persekongkolan dalam Hidup Beta. Tulisan itu
menjadi semacam obituari bagi Om Ben. Mula-mula saya belum kenal Ben Anderson
secara pemikiran, masih pada taraf sekadar mendengar namanya disebut-sebut.
Tak ada yang aneh dengan tulisan Zen di Mojok, yang membuat
saya merasa sedikit bingung adalah kenapa dikirim ke Mojok? Kenapa tak diunggah
di blog pribadinya—seperti biasanya. Bukan karena tak cocok gaya tulisan atau
kontennya, jelas kalau kedua itu masuk kriteria. Eh, kalau penulis tamu gitu
mah enggak mikirin lagi masalah kriteria kan?
Pasca menandaskan tulisan Zen, saya coba mendokumentasikan
dalam ‘Muntahan’. Saya beri judul Zen dan Rumahnya. Dalam suatu diskusi tentang
sepakbola di kawasan Kaki Merapi, dia berpendapat bahwa kita kudu “menghidupkan
rumah masing-masing”, dalam artian tidak perlu sok-sokan menulis ke media lain
sedang ‘rumah’ kita sendiri sepi-lenggang.
Zen—entah secara sadar
ataupun tidak—melanggar prinsip“menghidupkan rumah masing-masing”. Melanggar
pakem dengan menuliskan seseorang yang mempengaruhi pola pikirnya tentu adalah
hal yang spesial. Oleh sebab itu, saya barangkali juga harus mencari tahu siapa
dia dan apa-apa saja yang sudah diperbuatnya. Begitu saya mencatatnya.
Dan kali ini giliran saya coba mengenali Om Ben lebih dalam,
melalui memoar/otobiografinya yang dinarasikan secara asik ini. Mensengejakan
membacanya terlebih dahulu sebeleum menuju yang lain. Membedah cara berpikir
pun menilik latar belakangnya.
Benar bahwa Hidup di
Luar Tempurung mengambil makna dari peribahasa ‘Ibarat Katak di dalam
tempurung’. Ben tak mau menajadi katak di dalam tempurung. Maka dari itu, ia
banyak mempelajari bahasa masing-masing negara yang akan menjadi bahan
kajiannya.
Mereka belajar keluar
dari tempurung, dan mulai melihat langit luas di atasnya. Di sana terbentang
kemungkinan untuk berpisah dari egoisme atau narsisme. Penting untuk dicamkan
bahwa mempelajari suatu bahasa bukanlah semata-mata mempelajari sarana
komunikasi linguistik. Melainkan juga mempelajari cara berpikir dan cara merasa
dari suatu kelompok manusia yang bicara dan menulis dengan bahasa yang berbeda
dengan kita. Berarti juga mempelajari sejarah dan budaya yang menjadi landasan
pemikiran dan perasaan mereka itu, dan dnegan demikian belajar berempati pada
mereka. (Hal. 193)
Barangkali, pendapat yang seperti ini muncul mengingat Ben
adalah seorang peneliti lapangan. Artinya dia mengobservasi dan meneiliti benda
hidup, dan oleh karena itu penting untuk bisa berbicara dalam bahasa yang sama. Pernah kah kau membaca buku dengan terjemahan yang buruk meskipun banyak orang bilang dia penulis bagus? Ya, kesalahannya terletak pada proses penerjemahan bahasa si
penulis. Akan berbeda jika tak sama.
Dengan berbahasa ia juga mencoba berbaur dengan lingkuan
sekitar. Namun tetap saja, pada masyarakat yang baru terbebas dari kungkungan
kolonialisme, orang-orang dengan ras kulit puith akan dipanggil “Tuan” oleh
pribumi. Bahkan untuk orang asing yang lebih muda sekalipun. Dengan melihat
kemiripan antara warna kulitnya dan kulit hewan albino, maka dia meminta kepada
rekan-rekannya untuk dipanggil “bulai” atau “bule”, bukannnya “putih”.
Ben mengatakan ini adala kontribusi kecilnya (tapi awet)
dalam berbahasa Indonesia. Sepuluh tahun berselang, seorang kolega “kulit putih”
di Australia mengirimi surat sebab tidak suka dengan orang Indo yang rasis
sebab dia dipanggil “bule”. Ben sambil
bercanda membalasnya: Kau kan sejarawan
ahli Indonesia yang berpengalaman. Berani taruhan $100 kau tak kan bisa
mendapati kata bule, dalam arti ‘orang
kulit putih’, dalam dokumen apapun sebelum 1963.” Ia tidak berani bertaruh.
Salah satu hal menarik yang perlu saya cari tahu lagi ialah
tentang konsep nasionalisme, internasionalisme, dan globalisasi yang
dibenturkan Om Ben. Konsepsinya ini muncul dari pengalamannya meneiliti dengan
metode interdisipliner, hingga akhirnya
menenelurkan Imagined Communities. Buku
yang laik masuk list selanjutnya. Terkait hal ini, begini Ben berpendapat:
Nasionalisme dan globalisasi memenag punya kecenderungan
untuk membatasi pandangan kita dan menyederhanakan perkara. Itu sebabnya yang
kian diperlukan adalah percampuran serius dan canggih dari
kemungkinan-kemungkinan emansipatif nasionalisme dan internasionalisme. Karena
itulah, dalam semangat Walt Kelly dan Karl Marx yang sedang sumringah, saya
sarankan slogan berikut ini untuk para peniliti muda:
Katak-katak dalam
perjuangan mereka untuk emansipasi hanya kan kalah dengan mendekam dalam
tempurungnya yang suram. Katak sedunia, besatulah! (Hal. 197)
Sebagai seorang peneliti, Om Ben melihat ada beberapa hal
yang membantunya: pertama adalah diberkati
dengan keakrababan-keakraban yang mendalam dan awet dengan beberapa kolega,
yang kerap jauh lebih berharga ketimbang riset sepi perpustakaan. Kedua, ada campur tangan keberuntungan
atau kebetulan. Ia merasa sebagai “sardjana ngawur” terlampau banyak keberuntungan
yang membantunya maju dalam studi dan menjalani kehidupan.
Membayangkan “keberuntungan” yang dialaminya, saya sendiri
jadi teringat salah satu pepatah Latin—yang pada beberapa hari lalu tak sengaja
saya buka di internet: Animum fortuna
sequitur. Tidak lain Om, Keberuntungan
mengikuti sifat keberanaian, Om!

0 komentar:
Posting Komentar