Minggu, 25 Desember 2016

‘Sardjana Ngawur’, Guru Para Katak!



#40BukuUntuk2016
(Selesai baca: 31/40)
Hidup di Luar Tenpurung - Benedict Anderson
Marjin Kiri, Yogyakarta Juli 2016.
205 halaman.

Jadi begini, perkenalan dengan Om Ben ini bermula dari tulisan Zen RS di Mojok setahun lalu, Om Ben Anderson dan Arkeologi Persekongkolan dalam Hidup Beta. Tulisan itu menjadi semacam obituari bagi Om Ben. Mula-mula saya belum kenal Ben Anderson secara pemikiran, masih pada taraf sekadar mendengar namanya disebut-sebut.

Tak ada yang aneh dengan tulisan Zen di Mojok, yang membuat saya merasa sedikit bingung adalah kenapa dikirim ke Mojok? Kenapa tak diunggah di blog pribadinya—seperti biasanya. Bukan karena tak cocok gaya tulisan atau kontennya, jelas kalau kedua itu masuk kriteria. Eh, kalau penulis tamu gitu mah enggak mikirin lagi masalah kriteria kan?

Pasca menandaskan tulisan Zen, saya coba mendokumentasikan dalam ‘Muntahan’. Saya beri judul Zen dan Rumahnya. Dalam suatu diskusi tentang sepakbola di kawasan Kaki Merapi, dia berpendapat bahwa kita kudu “menghidupkan rumah masing-masing”, dalam artian tidak perlu sok-sokan menulis ke media lain sedang ‘rumah’ kita sendiri sepi-lenggang. 

Zen—entah secara sadar ataupun tidak—melanggar prinsip“menghidupkan rumah masing-masing”. Melanggar pakem dengan menuliskan seseorang yang mempengaruhi pola pikirnya tentu adalah hal yang spesial. Oleh sebab itu, saya barangkali juga harus mencari tahu siapa dia dan apa-apa saja yang sudah diperbuatnya. Begitu saya mencatatnya.

Dan kali ini giliran saya coba mengenali Om Ben lebih dalam, melalui memoar/otobiografinya yang dinarasikan secara asik ini. Mensengejakan membacanya terlebih dahulu sebeleum menuju yang lain. Membedah cara berpikir pun menilik latar belakangnya.

Benar bahwa Hidup di Luar Tempurung mengambil makna dari peribahasa ‘Ibarat Katak di dalam tempurung’. Ben tak mau menajadi katak di dalam tempurung. Maka dari itu, ia banyak mempelajari bahasa masing-masing negara yang akan menjadi bahan kajiannya.

Mereka belajar keluar dari tempurung, dan mulai melihat langit luas di atasnya. Di sana terbentang kemungkinan untuk berpisah dari egoisme atau narsisme. Penting untuk dicamkan bahwa mempelajari suatu bahasa bukanlah semata-mata mempelajari sarana komunikasi linguistik. Melainkan juga mempelajari cara berpikir dan cara merasa dari suatu kelompok manusia yang bicara dan menulis dengan bahasa yang berbeda dengan kita. Berarti juga mempelajari sejarah dan budaya yang menjadi landasan pemikiran dan perasaan mereka itu, dan dnegan demikian belajar berempati pada mereka. (Hal. 193)

Barangkali, pendapat yang seperti ini muncul mengingat Ben adalah seorang peneliti lapangan. Artinya dia mengobservasi dan meneiliti benda hidup, dan oleh karena itu penting untuk bisa berbicara dalam bahasa yang sama. Pernah kah kau membaca buku dengan terjemahan yang buruk meskipun banyak orang bilang dia penulis bagus? Ya, kesalahannya terletak pada proses penerjemahan bahasa si penulis. Akan berbeda jika tak sama.

Dengan berbahasa ia juga mencoba berbaur dengan lingkuan sekitar. Namun tetap saja, pada masyarakat yang baru terbebas dari kungkungan kolonialisme, orang-orang dengan ras kulit puith akan dipanggil “Tuan” oleh pribumi. Bahkan untuk orang asing yang lebih muda sekalipun. Dengan melihat kemiripan antara warna kulitnya dan kulit hewan albino, maka dia meminta kepada rekan-rekannya untuk dipanggil “bulai” atau “bule”, bukannnya “putih”.

Ben mengatakan ini adala kontribusi kecilnya (tapi awet) dalam berbahasa Indonesia. Sepuluh tahun berselang, seorang kolega “kulit putih” di Australia mengirimi surat sebab tidak suka dengan orang Indo yang rasis sebab dia dipanggil “bule”.  Ben sambil bercanda membalasnya: Kau kan sejarawan ahli Indonesia yang berpengalaman. Berani taruhan $100 kau tak kan bisa mendapati kata bule, dalam arti ‘orang kulit putih’, dalam dokumen apapun sebelum 1963.” Ia tidak berani bertaruh.

Salah satu hal menarik yang perlu saya cari tahu lagi ialah tentang konsep nasionalisme, internasionalisme, dan globalisasi yang dibenturkan Om Ben. Konsepsinya ini muncul dari pengalamannya meneiliti dengan metode interdisipliner,  hingga akhirnya menenelurkan Imagined Communities. Buku yang laik masuk list selanjutnya. Terkait hal ini, begini Ben berpendapat: 

Nasionalisme dan globalisasi memenag punya kecenderungan untuk membatasi pandangan kita dan menyederhanakan perkara. Itu sebabnya yang kian diperlukan adalah percampuran serius dan canggih dari kemungkinan-kemungkinan emansipatif nasionalisme dan internasionalisme. Karena itulah, dalam semangat Walt Kelly dan Karl Marx yang sedang sumringah, saya sarankan slogan berikut ini untuk para peniliti muda:

Katak-katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya kan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia, besatulah! (Hal. 197)

Sebagai seorang peneliti, Om Ben melihat ada beberapa hal yang membantunya: pertama adalah diberkati dengan keakrababan-keakraban yang mendalam dan awet dengan beberapa kolega, yang kerap jauh lebih berharga ketimbang riset sepi perpustakaan. Kedua, ada campur tangan keberuntungan atau kebetulan. Ia merasa sebagai “sardjana ngawur” terlampau banyak keberuntungan yang membantunya maju dalam studi dan menjalani kehidupan.

Membayangkan “keberuntungan” yang dialaminya, saya sendiri jadi teringat salah satu pepatah Latin—yang pada beberapa hari lalu tak sengaja saya buka di internet: Animum fortuna sequitur. Tidak lain Om, Keberuntungan mengikuti sifat keberanaian, Om!


0 komentar:

Posting Komentar