![]() |
| Foto oleh @f_luthi |
Presiden setelah sekian lama, (keberanian dan
keterbukaannya untuk menemui Petani Kendeng rasanya tak perlu dilabeli secara
heroik dan label-label lainnya), pada akhirnya dan memang sudah sewajarnya
menemui perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Istana lantas berujar
dengan gagahnya. Saya nukilkan sebagian:
"Tapi juga jangan sampai ke persoalan-persoalan
daerah dibawa ke saya, dikit-dikit ke saya, ndak lah." Seperti diberitakan
tribunnews.com
Gagah betul memang--untuk tidak menyebutnya tegas
dalam ranah tanggungjawab. Maksud blio tentu baik, supaya yang menjadi pintu
pertama, mulai dari pejabat daerah sampai menteri, dapat mengendalikan pada
mula-mula.
Ini juga bisa berarti, menurut saya, bahwa harus ada
yang berani 'mengingatkan' blio bahwa kelahiran dua kambing di Istana yang
diunggah di kanal YouTubenya adalah sesungguhnya seekor domba, seperti yang
dikatakan Drh. Soeharsono dalam Surat Pembaca Kompas edisi 20 Maret 2017.
Bukan apa-apa, seperti yang blio sabdakan, jangan
semua-semua masalah kok di laporkan ke Presiden. Mbok Kabinet Kerjanya ni pada
peka gitu lho! Tanggap, kerjakan dan selesaikan sendiri.
Lagi-lagi, bukannya apa-apa, domba itu pembawa virus
penyakit ingusan Malignant Catarrhal Fever (MCF) yang mudah tertular pada sapi,
kerbau, dan rusa. Sebagai pembawa virus, domba tidak akan sakit. Virus biasa
dikeluarkan oleh domba betina ketika lahiran melalui cairan. Dan, ya, kita
berharap kandang rusa di Istana tak berdekatan dengan 'domba-domba' kesayangan
Jokowi yang menjadi simbol optimisme, kemudian lanjutnya dalam vlog "di
mana ada optimisme, di situ ada kecintaan."
Tapi serius, virus ini berbahaya. Rusa yang tertular
virus akan sulit diselamatkan, sebab sampai kiwari belum ada obatnya. Kamu gak
mau kan liat rusa-rusa gagah penghuni Istana mati sebab tim belakang layar
Presiden luput untuk mengurusi dan menanggulangi.
Tapi serius (lagi), masalah domba ini lebih penting
untuk diingatkan pada blio, ketimbang usaha petani-petani yang sudah berjalan
kaki sejauh 150 KM demi bertemu Den Dimas Gubernur Jateng, lalu membangun tenda
dan camping di depan kantor gubernur berminggu-minggu, menggugatnya secara
hukum, dan menang di MA tapi tetap saja tak pernah benar-benar menang melawan
pabrik semen.
Iya, betul. Prosesnya itu seenteng komenmu yang
bilang "emang gak ada cara lain agar didengar selain mengecor kaki sampai
ada yang meninggal juga?" Iya, Mas, Mbak, enteng kok perjuangannya
petani-petani Kendeng ini. Siapa sih yang bilang kalau cara-cara perlawanan
petani-petani ini susah? Gampang kok, sumpah, tinggal abaikan perjuangan di
paragraf sebelumnya.
Pada akhirnya, kepada kita semua, jiwa-jiwa yang
lelah dan sok peduli, perlu didendangkan lagu NDX A.K.A dan jangan lupa kirim
doa untuk Yu Patmi yang telah berpulang dalam sisa perjuangannya;
"meh sambat kalih sinten yen sampun mekaten,
merana uripku
(Ingin marah pada siapa kalau sudah seperti ini,
merana hidupku)
[...]
aku nangis nganti metu eluh getih putih
(aku nangis sampai keluar darah putih)"
Panggungharjo,
24 Maret 2017.

0 komentar:
Posting Komentar