Sabtu, 25 Maret 2017

Semen, NDX, dan Kelahiran 'Kambing' Jokowi



Foto oleh @f_luthi

Presiden setelah sekian lama, (keberanian dan keterbukaannya untuk menemui Petani Kendeng rasanya tak perlu dilabeli secara heroik dan label-label lainnya), pada akhirnya dan memang sudah sewajarnya menemui perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Istana lantas berujar dengan gagahnya.  Saya nukilkan sebagian:

"Tapi juga jangan sampai ke persoalan-persoalan daerah dibawa ke saya, dikit-dikit ke saya, ndak lah." Seperti diberitakan tribunnews.com

Gagah betul memang--untuk tidak menyebutnya tegas dalam ranah tanggungjawab. Maksud blio tentu baik, supaya yang menjadi pintu pertama, mulai dari pejabat daerah sampai menteri, dapat mengendalikan pada mula-mula.

Ini juga bisa berarti, menurut saya, bahwa harus ada yang berani 'mengingatkan' blio bahwa kelahiran dua kambing di Istana yang diunggah di kanal YouTubenya adalah sesungguhnya seekor domba, seperti yang dikatakan Drh. Soeharsono dalam Surat Pembaca Kompas edisi 20 Maret 2017.

Bukan apa-apa, seperti yang blio sabdakan, jangan semua-semua masalah kok di laporkan ke Presiden. Mbok Kabinet Kerjanya ni pada peka gitu lho! Tanggap, kerjakan dan selesaikan sendiri. 

Lagi-lagi, bukannya apa-apa, domba itu pembawa virus penyakit ingusan Malignant Catarrhal Fever (MCF) yang mudah tertular pada sapi, kerbau, dan rusa. Sebagai pembawa virus, domba tidak akan sakit. Virus biasa dikeluarkan oleh domba betina ketika lahiran melalui cairan. Dan, ya, kita berharap kandang rusa di Istana tak berdekatan dengan 'domba-domba' kesayangan Jokowi yang menjadi simbol optimisme, kemudian lanjutnya dalam vlog "di mana ada optimisme, di situ ada kecintaan."

Tapi serius, virus ini berbahaya. Rusa yang tertular virus akan sulit diselamatkan, sebab sampai kiwari belum ada obatnya. Kamu gak mau kan liat rusa-rusa gagah penghuni Istana mati sebab tim belakang layar Presiden luput untuk mengurusi dan menanggulangi.

Tapi serius (lagi), masalah domba ini lebih penting untuk diingatkan pada blio, ketimbang usaha petani-petani yang sudah berjalan kaki sejauh 150 KM demi bertemu Den Dimas Gubernur Jateng, lalu membangun tenda dan camping di depan kantor gubernur berminggu-minggu, menggugatnya secara hukum, dan menang di MA tapi tetap saja tak pernah benar-benar menang melawan pabrik semen.

Iya, betul. Prosesnya itu seenteng komenmu yang bilang "emang gak ada cara lain agar didengar selain mengecor kaki sampai ada yang meninggal juga?" Iya, Mas, Mbak, enteng kok perjuangannya petani-petani Kendeng ini. Siapa sih yang bilang kalau cara-cara perlawanan petani-petani ini susah? Gampang kok, sumpah, tinggal abaikan perjuangan di paragraf sebelumnya.

Pada akhirnya, kepada kita semua, jiwa-jiwa yang lelah dan sok peduli, perlu didendangkan lagu NDX A.K.A dan jangan lupa kirim doa untuk Yu Patmi yang telah berpulang dalam sisa perjuangannya;

"meh sambat kalih sinten yen sampun mekaten, merana uripku
(Ingin marah pada siapa kalau sudah seperti ini, merana hidupku)

[...]

aku nangis nganti metu eluh getih putih
(aku nangis sampai keluar darah putih)"

Panggungharjo, 24 Maret 2017.

0 komentar:

Posting Komentar