Sabtu, 28 Oktober 2017

Perihal Perawan Remaja dan Janji Studi yang Tak Ditepati


Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer - Pramoedya A. Toer
KPG, Jakarta, Agustus 2015.
248 halaman.


Aku perlukan menghela nafas panjang selepas membaca buku ini. Ahhhh.. Spontan dan kontan. Surat-surat yang disusun Pram untuk Perawan Remaja begini getir. Bercerita melulu tentang kesedihan dan penderitaan.

Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer merupakan sekumpulan tulisan yang diramu Pramoedya A. Toer dari hasil penelitiannya dan beberapa catatan teman, sesama buangan di Pulau Buru. Menceritkan kisah pilu Perawan Remaja yang dijadikan wanita penghibur pada masa penjajahan Nippon hingga akhirnya dibuang begitu saja di Pulau Buru.

Mereka, Perawan Remaja, yang pada mulanya dijanjikan melanjutkan studi di Tokyo dan Singapura itu telah ditipu, mereka diasingkan di rumahnya sendiri dan dan dijadikan pemuas hasrat bala tentara Jepang. Ada yang diberangkatkan karena sukarela, adapula yang dalam tekanan orang tua yang berada dalam bayang-bayang Jepang. "...Dapat diduga sebagaian terbesar perawan remaja yang diangkut oleh Jepang itu telah mati dalam pemderitaan, tanpa disaksikan oleh orang-orang yang dikasihinya, tidak pernah mendapatkan kesempatan belajar sebagaimana dijanjikan, dan mati di negeri yang jauh." (Hal. 20.) Ah, betapa kabar pilu yang menyakitkan ini harus kudengar.

Melalui buku ini pula Pram menggugat pemerintahan Jepang untuk bertanggung jawab atas 'kejahatan perang' yang telah diperbuatnya. Pun mengingatkan pemerintah Indonesia untuk melakukan tindakan barang sedikit. Walaupun ia sendiri menyadari ketidak-mauan Jepang bertanggungjawab adalah keteledoran dari pemerintah Indonesia sendiri:

Alasan pertama adalah Indonesia sebagai pihak penggugat belum memiliki bahan otentik untuk menggugat. Yang kedua adalah saat itu Indonesia sedang terlibat dalam perjuangan senjata untuk mempertahankan kemerdekaanya. Ketiga saat itu republik Indonesia yang masih sangat muda masih mengalami pertentangan kepartaian yang berlarut-larut. Dan yang terakhir mengenai keteledoran dari pihak RI sendiri. Alasan di atas membuat Jepang berhasil lepas dari tanggung jawab terhadap perbuatan yang telah dilakukannya.

Pada bagian lain ia pun menambahkan: "Adalah mengherankan bahwa Jepang yang semasa kekuasaanya mengajarkan semangat satria, semangat bushido, dalam praktek tidak berani bertanggungjawab menerima akibat perbuatan sendiri." (Hal. 22)

Perawan remaja yang menjadi buangan itu bukannya tidak mau pulang ke kampung halamannya masing-masing. Ada yang sudah terlanjur terikat oleh adat Alfuru, suku di pedalaman Buru. Tak sedikit pula yang tak mau pulang sebab merasa malu dan terlamapu hina. Lebih banyak sebab ketakutan yang terus menghantui dan trauma yang amat mendalam.

Semoga "Janji Indah" yang ditulis di pembuka buku menjadi kenyataan. "..Dan impian itu bisa menjadi padat, menjadi cita-cita. Dan cita-cita itu menjadi pola yang menjadi dasar dan petunjuk dari perbuatan." Tabik, Mbah.

0 komentar:

Posting Komentar