Kita
adalah sisa kesia-siaan. Kau dan aku, adalah sebuah omong kosong yang
parak. Aku tak menginginkanmu adalah mantra yang selalu kauulang pada
desir angin. Pada semua cahaya yang kauredupkan.
Aku
dengan sikap bodoh yang tak kunjung purna membelimu dari gerai yang
hanya kuingat tanggalnya. Kurogoh duit dari dompet yang berusaha tidak terlihat ringkih di hadapan orang-orang yang tak dikenali.
Sedangkan kau selalu saja menghardik pot yang kurang besar, hari-hari
yang sepi, dan gatal pada pukang. Sialan.
Jangan
sedih soal nasib, nasib burukmu atau nasib sangatmu. Nasib ialah
kesunyiannya masing-masing, kata seorang penyair. Bagi pencair dana
asuransi, nasib adalah pekerjaan rumah siswa Finlandia.
Dosa-dosa
bikin sulit, tapi doa menguatkan. Gusti mboten sare sabda sebuah
kendang pada mikropon yang tak berbasah-basah dalam bahasa. Kopi-kopi
bersikeras meninggalkan rumah peribadatan, anggur-anggur masuk dan
mengambil lakon tersisa. Kau bisa terus berdoa tanpa menghardik sikap
kopi, merayakan rasa yang tunggal, merasakan asa yang tinggal.
Jika
mampu, kau boleh sebar benih-benih kopi pada ingatan yang tak kauanggap
perlu. Ingat, jika kau mampu, sebab menanam bukan ritus dan
penyakit-penyakit yang perlu kau hindari dengan hidup sehat.
Akan
kuberi kau nama kaktus, jika pun kau sanggup bicara dan menolaknya. Aku
akan bersikukuh pada apa yang kupercayai, bukan pada apa yang "benar".
Aku bukan kaktus dan tak ingin menjadi kaktus adalah kata sandi warung
kopi yang pelit dan pahit.
Kata
sandi bukanlah kata-kata yang seperti ular, seperti hutang, seperti
tenggat. Bukan. Ia bukan lah kata-kata yang selalu kauceramahkan padaku
usai khotbah di ruang-ruang berpendingin udara.
Ibarat
dendam, duri dan rindumu menancap keluar, alih-alih menusuk dirimu ke sunyi dalammu. Ibarat bahagia, selalu simpan sakit bagi lainnya.
Air kau hindari agar kering matamu dari hal-hal yang belum lunas-tandas.
Tapi bukan kah kita selalu begitu dalam menafsir; kebenaran adalah--selalu--apa yang kita percayai benar, bukan apa yang benar.
Mantrijeron, 2017.
Mantrijeron, 2017.

0 komentar:
Posting Komentar