Sabtu, 18 November 2017

Leler!

Kita adalah sisa kesia-siaan. Kau dan aku, adalah sebuah omong kosong yang parak. Aku tak menginginkanmu adalah mantra yang selalu kauulang pada desir angin. Pada semua cahaya yang kauredupkan.

Aku dengan sikap bodoh yang tak kunjung purna membelimu dari gerai yang hanya kuingat tanggalnya. Kurogoh duit dari dompet yang berusaha tidak terlihat ringkih di hadapan orang-orang yang tak dikenali. Sedangkan kau selalu saja menghardik pot yang kurang besar, hari-hari yang sepi, dan gatal pada pukang. Sialan.

Jangan sedih soal nasib, nasib burukmu atau nasib sangatmu. Nasib ialah kesunyiannya masing-masing, kata seorang penyair. Bagi pencair dana asuransi, nasib adalah pekerjaan rumah siswa Finlandia.

Dosa-dosa bikin sulit, tapi doa menguatkan. Gusti mboten sare sabda sebuah kendang pada mikropon yang tak berbasah-basah dalam bahasa. Kopi-kopi bersikeras meninggalkan rumah peribadatan, anggur-anggur masuk dan mengambil lakon tersisa. Kau bisa terus berdoa tanpa menghardik sikap kopi, merayakan rasa yang tunggal, merasakan asa yang tinggal.

Jika mampu, kau boleh sebar benih-benih kopi pada ingatan yang tak kauanggap perlu. Ingat, jika kau mampu, sebab menanam bukan ritus dan penyakit-penyakit yang perlu kau hindari dengan hidup sehat.

Akan kuberi kau nama kaktus, jika pun kau sanggup bicara dan menolaknya. Aku akan bersikukuh pada apa yang kupercayai, bukan pada apa yang "benar". Aku bukan kaktus dan tak ingin menjadi kaktus adalah kata sandi warung kopi yang pelit dan pahit.

Kata sandi bukanlah kata-kata yang seperti ular, seperti hutang, seperti tenggat. Bukan. Ia bukan lah kata-kata yang selalu kauceramahkan padaku usai khotbah di ruang-ruang berpendingin udara.

Ibarat dendam, duri dan rindumu menancap keluar, alih-alih menusuk dirimu ke sunyi dalammu. Ibarat bahagia, selalu simpan sakit bagi lainnya. Air kau hindari agar kering matamu dari hal-hal yang belum lunas-tandas.

Tapi bukan kah kita selalu begitu dalam menafsir; kebenaran adalah--selalu--apa yang kita percayai benar, bukan apa yang benar.

Mantrijeron, 2017.

0 komentar:

Posting Komentar