Menunggu lampu merah, Kakek pembawa sepeda
coba membuka pembicaraan dengan pengendara di sampingnya. Jawabannya tak
begitu terdengar. Tapi simpul di wajahnya menunjukkan semacam rasa
bahagiya.
Polisi di depan masih saja memberi sinyal
untuk tetap menunggu. Padahal ini tengah malam. Ada rombongan mobil
yang melaju kencang dan dikawal banyak polisi.
Ketika
rombongan habis, lampu menunjukan hijau, polisi tak memberi aba-aba
untuk jalan. Klakson saling bersahut, si Kakek bersedia dan coba melaju.
Ternyata belum diperkenankan berkelabat. Hampir dia tersungkur.
Selepas
itu si Kakek masih saja menunjukkan simpul pada wajahnya. Pengendara di
sampingnya masih saja tak menyahut. Seolah tak terjadi apapun. Lalu
polisi kembali ke posnya. Lampu merah normal kembali.
Malam
ini aku menempuh jarak yang sebetulnya tak jauh-jauh dan capek-capek
amat. Empat puluh kilometer pulang-pergi. Menghadiri janji yang tak
penting-penting amat. Tidak perlu pula mengayuh atau berpikir yang
sukar-sukar. Kepala hanya berisi ocehan yang itu-itu melulu.
Ah,
dan tulisan ini juga tak kan berarti apa-apa untuk kakek pengendara
sepeda dan bapak-bapak yang melaju kencang seraya dijaga ketat
sirene-sirini. Juga, untuk kau baca, dan kutulis. Tak ada yang
benar-benar berarti seperti yang sering kita bicarakan.
Panggungharjo, 2017.
Sabtu, 28 Oktober 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar