Sabtu, 28 Oktober 2017

Dua Enam

Menunggu lampu merah, Kakek pembawa sepeda coba membuka pembicaraan dengan pengendara di sampingnya. Jawabannya tak begitu terdengar. Tapi simpul di wajahnya menunjukkan semacam rasa bahagiya.

Polisi di depan masih saja memberi sinyal untuk tetap menunggu. Padahal ini​ tengah malam. Ada rombongan mobil yang melaju kencang dan dikawal banyak polisi.

Ketika rombongan habis, lampu menunjukan hijau, polisi tak memberi aba-aba untuk jalan. Klakson saling bersahut, si Kakek bersedia dan coba melaju. Ternyata belum diperkenankan berkelabat. Hampir dia tersungkur.

Selepas itu si Kakek masih saja menunjukkan simpul pada wajahnya. Pengendara di sampingnya masih saja tak menyahut. Seolah tak terjadi apapun. Lalu polisi kembali ke posnya. Lampu merah normal kembali.

Malam ini aku menempuh jarak yang sebetulnya tak jauh-jauh dan capek-capek amat. Empat puluh kilometer pulang-pergi. Menghadiri janji yang tak penting-penting amat. Tidak perlu pula mengayuh atau berpikir yang sukar-sukar. Kepala hanya berisi ocehan yang itu-itu melulu.

Ah, dan tulisan ini juga tak kan berarti apa-apa untuk kakek pengendara sepeda dan bapak-bapak yang melaju kencang seraya dijaga ketat sirene-sirini. Juga, untuk kau baca, dan kutulis. Tak ada yang benar-benar berarti seperti yang sering kita bicarakan.

Panggungharjo, 2017.

0 komentar:

Posting Komentar