Akhir-akhir ini saya merasai betul keberadaan lemak yang mulai menumpuk pada beberapa bagian tubuh saya. Bukannya tidak mau olahraga, cuman ya gimana lagi, namanya juga lagi
Olahraga yang paling
sering saya lakukan akhir-akhir ini hanya terbatas pada olahraga tangan. Tunggu
dulu, olahraga tangan yang saya maksudkan disini adalah berkonotasi positif,
diseberang sana pasti ada yang terkekeh-terkekeh, “Wah pasti jorok nih..” Hmm..
Olahraga tangan yang jorok itu misal semacam ngupil, kan? Olahraga yang saya
maksud adalah: Angkat galon, dan tak-tik-tuk tidak jelas di depan gadget. Sesungguhnya,
saya merasai betul efek yang ditimbulkan dengan berlama-lama di depan gadget:
kuota internet cepat habis! Tapi ya mau gimana lagi, sehari saja tidak
terhubung dengan internet maka sudah dapat dipastikan foto-foto menggemaskan
adek-adek di instagram terlewatkan.
Namun terkadang tidak
sedikit saya menjumpai hal-hal yang menggelitik dan mencerahkan di media
sosial, misal bunyi tweet salah seorang teman, kurang lebih isinya begini:
“Disaat seseorang mengeluhkan tentang suatu hal, orang lain justru mengharapkan
ada pada posisi orang yang sedang mengeluh.” Menggelitik, sangat menggelitik
hati saya.
Apa pasal sampai bisa
menggelitik? Begini, saat membaca tweet salah seorang teman tadi, kebetulan saya
sedang mengeluhkan posisi yang terjebak dalam sebuah rombongan tour di China.
Banyak yang mencemburui perjalanan ‘liburan’ saya kali ini. Liburan dalam tanda
petik. Jujur, dibalik topeng kebahagiaan itu saya sedang membatin dengan sangat
kencang. Ikut dalam acara tour (dibawah naungan agen wisata) artinya harus
disiplin: disiplin waktu dan disiplin perilaku. Sekali saja melanggar salah
satunya, maka fatal akibatnya.
Disiplin yang pertama
saya langgar saat mengikuti ibadah umroh, akhirnya saya harus menanggung resiko
tertinggal bis dan diharuskan menyusul rombongan menggunakan dana pribadi.
Kemudian, disiplin yang kedua baru saja saya langgar di China. Saya melanggar
bukan karena tidak disengaja seperti pada kasus yang pertama, saya melanggar
dengan alasan yang sangat kuat, yaitu: memberontak. Mengikuti tour juga artinya
harus mengikuti kemana tujuan tour itu, saat makan ya harus makan, saat jalan-jalan
ya harus ikut, saat di bis ya duduk yang rapih. Kebebasan saya benar-benar
direnggut. Hizz.
Sebenarnya saya
bisa-bisa saja tunduk dan patuh dengan peraturan tour yang menganjurkan untuk
mengikuti seluruh rangkaian acaranya. Tapi kalau saya dipaksa ikut ke setiap
tempat yang tidak saya sukai dan itu benar-benar membuang waktu kan nggapleki. Anda akan benar-benar
tersiksa dengan liburan yang serba disiplin seperti ini, buang hajat diwaktuin,
belanja diwaktuin, bahkan duduk-duduk sambil memandang pemandanganpun diberi
waktu.
Tapi
ini kan grup jadi harus serba disiplin, biar teratur acaranya.
Ah prek.
Fakta yang berikut ini
saya dapatkan seusai mengobrol dengan beberapa Bapak-Bapak yang juga kebetulan
muak dengan susunan acara yang diatur sedemikian rupa oleh agen wisata. Sudah
menjadi rahasia umum, bahwasannya setiap rombongan tour –baik lokal ataupun
asing—harus mengunjungi tempat-tempat produksi rumahan. Misal: Toko perhiasan:
emas, batu giok, permata, dll. Perusahaan Teh, Perusahaan sutra, dan bahkan
klinik-klinik pengobatan tradisonal. Modusnya hampir sama, mereka memberikan
sample-sample masing-masing produk atau setidaknya bercerita sejarah tentang
produk miliknya dan ditambah sedikit ‘fakta-fakta’ pemanis. Lalu apa untungnya
agen wisata membawa tamu mereka kesini? Jelas mereka mendapatkan fee sekian
persen jika ada tamu yang kena tipu.
Saya menyarankan jika
suatu hari nanti anda jalan-jalan dan menggunakan jasa agen wiasata, diusahakan
jangan membeli di tempat-tempat seperti itu. Biasanya harganya relatif mahal
dan sudah jelas anda sedang ‘ditipu’ secara halus. Karena hampir setiap
destinasi wisata yang saya kunjungi dan kebetulan ada agen wisatanya, sudah
pasti modusnya sama: nipu. Dulu saat di Hongkong, saya dipaksa memasuki sebuah
klinik kesehatan, yang katanya cukup terkenal disana. Awal turun dari bis saya
sudah mulai curiga. Klinik kesehatan yang terkenal ampuh dan mujarab gini kok
sepi. Akhirnya setelah berkeliling ruangan sambil diceritai sejarah berdirinya
klinik tersebut saya dipaksa masuk ke dalam sebuah ruangan dengan alasan akan
diperiksa.
“Mas
namanya siapa?” Si engkoh penerjemah yang duduk
disebelah dokter menerjemahkan dengan terbata-bata.
“Paisal,
Pak. Paisal Salman.” Jawab saya ragu.
“Anda
umul berapa aaa? Coba sini saya lihat tangan anda aa?”
“Delapan
belas” Seraya mengulurkan tangan.
“Wa
anda melokok ya, wa itu tidak sehat, tangan anda jadi mudah berkeringat, detak
jantung anda lemah, waa ini bisa belpotensi penyakit kangkel ini..”
Saya hanya
terkekeh-kekeh kecil, asumsi saya si dokter ini tertipu dengan warna bibir saya
yang agak gelap, seperti perokok berat. Akhirnya saya putuskan untuk
berpura-pura menjadi perokok.
“Wa
supaya menatlalisir lacun yang ada di dalam tubuh anda halus membeli obat yang
kita olang punya aa, sudah banyak yang melasakan khasiatnya aa, harganya murah aaa..”
Jadi begitulah
rata-rata modusnya, banyak yang berpura-pura ahli tapi ternyata tidak. Saya
kira modusnya hampir sama seperti pada kasus klinik kesehatan, cuma modus
penipuannya saja yang berbeda. Tapi ya karena banyak yang takut dengan yang
dikatakan ‘si dokter’ akhirnya banyak juga yang beli.
Liburan di China
kemarin adalah menjadi puncak pemberontakan, pemberontakan atas penipuan dan
pemaksaan. Setelah menyadari ketidakberesan modus penjualan mereka saya memilih
membangkang untuk tidak mengikuti rangkaian acaranya. Kalau saya tidak salah,
itu adalah hari ketiga di China, dan tujuannya adalah ke toko batu giok. Ketika
semua rombongan turun saya memilih tidur di dalam bis, penat sekali rasanya. Sekitar
15 menit rasa kantuk mulai menghinggapi, dan akhirnya mata terpejam. Namun,
belum sampai 5 menit tertidur, si tour guide membangunkan saya sambil agak
sebal. Ayoh turun, mereka hitung per kepala soalnya, gk enak juga sama yang
lain masa gak turun. Ayoh turun. Begitu rengek si tour guide. Ada sekitar 5-6
orang yang tidak turun dari bis. “Langsung naik ke atas, lantai 2!” Teriak si
tour guide. Dengan agak jengkel saya pun akhirnya turun.
Setibanya di loby
gedung saya putuskan untuk mampir sebentar ke kamar mandi. Entah setan apa yang
tiba-tiba membisiki saat itu, seperti ada yang menyuruh untuk keluar dan duduk-duduk sebentar
di taman, sedangkan rombongan yang lain sudah naik semuanya. Tidak lama si tour
guide (lagi-lagi) menghampiri saya. Pak, temen-temen yang lain udah pada naik
di atas loh, ayo naik gih, udah dibilangin dari tadi juga. Kali ini dengan nada
yang berbeda, agak tinggi saya pikir. Akhirnya saya benar-benar mengalah dan
naik.
Ini adalah disiplin
kedua yang (lagi-lagi) saya langgar. Tak ayal, saat memasuki ruang pertemuan,
semua mata memandang tajam. Kebetulan ada 2 kursi kosong di bagian pojok, saya
pun memiih duduk disana. Seorang teman yang duduk disamping memberi tahu, bos
dari pemilik toko batu giok ini akan datang untuk khusus menyambut ‘tamu’ dari
Indonesia. Dan seberang meja sana bercerita seorang pegawai toko tentang
sejarah panjang berdirinya toko, dan keunggulan-keunggulan produknya. Klise.
Tidak perlu menunggu
lama, si bos yang dijanjikan akhirnya datang. Dely, teman yang duduk di sebelah
saya tiba-tiba merubah gaya duduknya, semanis yang bisa dia lakukan. Saat
memulai pembicaraan saya merasai betul aura ke-bos-annya. Walaupun dengan
terbata-bata tapi dia tetap menjaga wibawanya. Beberapa teman yang memang
nyeleneh mencoba memancing dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh, tapi si bos
tidak mau teralihkan, dia tetap berusaha membawa forum agar tetap menjadi
miliknya.
Dengan cerita yang agak
serius terkadang dia menyelipkan sedikit lelucon. Dia bilang tidak suka tinggal
di China, orang-orang di China menurutnya aneh dan bau-bau. “Teman-teman dari
Indonesia juga hati-hati aa, jangan beli batu giok di China, sudah kualitasnya
jelek banyak yang pulsa juga aa” Tak pelak, tawapun menggelegar. Kemudian
dilanjutkannya, “Saya juga sebenarnya tidak suka bisnis aaa, ayah saya yang
belikan kepada saya, saya dipaksa beljualan batu. Kelja saya sebenalnya adalah
alsitketul, saya tidak suka bisnis ini aa, jangan beli batu disini aaa” Tawa
kedua akhirnya pecah. Banyak yang menceletuk, “Haha, dasar bos polos!”
Di tengah pembicaraan
ada seorang ibu yang bertanya, “Kok Engkoh bisa ngomong Bahasa Indonesia?”
Sebenarnya saya ini keturunan Indo, Ibu saya tinggal di Pluit, dekat dengan
Ahok. O bulatpun keluar dari mulut setiap group, oooo. Dia merasa senang
dikunjungi oleh tamu dari Indonesia. Tidak lama, dia bercerita tentang
kesedihannya kehilangan salah seorang saudara saat tsunami Aceh, dengan
ekspresi kesedihan yang mencukupi. Kemudian dia memanggil salah seorang
karyawannya dan berbisik.
“Saya sangat senang
sekali dengan kunjungan teman-teman dali Indonesia ini, oleh sebab itu akan
saya belikan masing-masing satu batu giok, tapi jangan beli batu disini ya,
saya tidak suka bisnis ini!” Tiba-tiba saja ruangan menjadi riuh, mendengar
akan diberi batu semuanya senang bukan kepalang. Angpau pun dibagikan, sesuai
dengan janjinya, di dalamnya terdapat satu batu giok berukuran 2x lipat dari
uang receh seribu rupiah. “Ah lu kan! Untung aja naik coba kalau dibawah aja,
pasti gak dapet gratisan kan! Haha” Komentar salah seorang teman. Dely yang
sedari tadi sibuk ngobrol dengan kakaknya, akhirnya membuka pembicaraan untuk
teman-teman disampingnya. “Eh, Si Engkoh masih single gk tuh ya? Del, lumayan
loh mumpung di China” Protes sang kakak sembari tersenyum yang membuat matanya
hanya terlihat garis. “Shikat lah!” Seorang teman lainnya ikut berkomentar.
Dan dengan pembagian
batu, berakhirlah acara pertemuan. Saat hendak meninggalkan ruangan ternyata
masih tidak diperbolehkan. Digelarlah lapak dagangan pada akhirnya. Macam-macam
batu dikeluarkan, mulai dari ruby sampai giok-giok biasa. Yang terdepan
memperhatikan adalah golongan-golongan olang belduit dan senior-senior. Saya
beserta anak-anak muda lainnya memilih mengobrol di belakang.
Mengamati tingkah laku
para pebisnis di depan saya ini aneh rasanya, mereka mengaku sedikitnya dalam
sebulan bisa tiga kali plesiran ke luar negeri. Tapi untuk menyadari ‘bisinis
kotor’ yang semacam inipun tidak bisa. Memang dalam hal ini (penjual batu giok)
bermain lebih bersih ketimbang modus-modus semacam klinik kesehatan.
Mula-mulanya berpura-pura polos, lalu merasa sama nasib, menyatakan simpati,
dan tentu saja akhirnya memberikan batu secara Cuma-Cuma. Klise.
Di dalam perjalanan
pulang, rombongan keluarga yang duduk dibelakang mengoceh sepanjang jalan
tentang penyesalan mereka membeli banyak batu. “Wah dasar gara-gara si Bos batu
kita jadi tekor banyak ni! Haha” Lalu disahuti oleh saudaranya yang lain “Jangan
beli batu di China aa tidak bagus aaa. Saya juga tidak suka bisnis ini!” Seraya
menirukan gaya si Bos Batu, tawapun kembali pecah. “Hahahaha, saya tidak suka
bisnis ini”
Saya hanya
terkekeh-kekeh menyaksikan perilaku orang-orang tua di belakang saya ini. Di
setiap rumah produksi yang disinggahi, mereka pasti berbelanja. Semua dibeli
entah itu obat luka bakar, kain sutra, sampai tentu saja batu giok yang tidak
mereka mengerti keasliannya. Sesekali memang terdengar keluhan tentang keluhan
pengeluaran mereka yang dibarengi dengan bercandaan. Pakaian ala Eropa yang
mereka gunakan ternyata masih belum selaras dengan cara berpikirnya. Sering
berpelesir ke luar negeri, tapi tetap saja terjebak dengan ‘bisnis kotor.’
Saat sedang tenggelam
dalam lamunan tentang perilaku orang-orang tua itu, saya justru teringat
kutipan Mbah Pram dalam Anak Semua Bangsa: Manusia
tetap yang dulu juga, ruwet dan pusing dengan nafsunya yang sama dan itu-itu
juga. Seperti di zaman wayang dulu.
Yogyakarta, 6
Mei 2015

0 komentar:
Posting Komentar