Rabu, 06 Mei 2015

Batu




Akhir-akhir ini saya merasai betul keberadaan lemak yang mulai menumpuk pada beberapa bagian tubuh saya. Bukannya tidak mau olahraga, cuman ya gimana lagi, namanya juga lagi sibuk malas. Sejujurnya, kalau ada jasa Penitipan Pengolahragaan Badan saya akan mengantri paling depan untuk mendaftar. Keringat yang saya cucurkan dalam satu bulan terakhir mungkin masih bisa ditampung dalam sebuah ember ukuran kecil. Minim betul kemauan saya untuk berolahraga. 
 
Olahraga yang paling sering saya lakukan akhir-akhir ini hanya terbatas pada olahraga tangan. Tunggu dulu, olahraga tangan yang saya maksudkan disini adalah berkonotasi positif, diseberang sana pasti ada yang terkekeh-terkekeh, “Wah pasti jorok nih..” Hmm.. Olahraga tangan yang jorok itu misal semacam ngupil, kan? Olahraga yang saya maksud adalah: Angkat galon, dan tak-tik-tuk tidak jelas di depan gadget. Sesungguhnya, saya merasai betul efek yang ditimbulkan dengan berlama-lama di depan gadget: kuota internet cepat habis! Tapi ya mau gimana lagi, sehari saja tidak terhubung dengan internet maka sudah dapat dipastikan foto-foto menggemaskan adek-adek di instagram terlewatkan.

Namun terkadang tidak sedikit saya menjumpai hal-hal yang menggelitik dan mencerahkan di media sosial, misal bunyi tweet salah seorang teman, kurang lebih isinya begini: “Disaat seseorang mengeluhkan tentang suatu hal, orang lain justru mengharapkan ada pada posisi orang yang sedang mengeluh.” Menggelitik, sangat menggelitik hati saya.


Apa pasal sampai bisa menggelitik? Begini, saat membaca tweet salah seorang teman tadi, kebetulan saya sedang mengeluhkan posisi yang terjebak dalam sebuah rombongan tour di China. Banyak yang mencemburui perjalanan ‘liburan’ saya kali ini. Liburan dalam tanda petik. Jujur, dibalik topeng kebahagiaan itu saya sedang membatin dengan sangat kencang. Ikut dalam acara tour (dibawah naungan agen wisata) artinya harus disiplin: disiplin waktu dan disiplin perilaku. Sekali saja melanggar salah satunya, maka fatal akibatnya.

Disiplin yang pertama saya langgar saat mengikuti ibadah umroh, akhirnya saya harus menanggung resiko tertinggal bis dan diharuskan menyusul rombongan menggunakan dana pribadi. Kemudian, disiplin yang kedua baru saja saya langgar di China. Saya melanggar bukan karena tidak disengaja seperti pada kasus yang pertama, saya melanggar dengan alasan yang sangat kuat, yaitu: memberontak. Mengikuti tour juga artinya harus mengikuti kemana tujuan tour itu, saat makan ya harus makan, saat jalan-jalan ya harus ikut, saat di bis ya duduk yang rapih. Kebebasan saya benar-benar direnggut. Hizz.

Sebenarnya saya bisa-bisa saja tunduk dan patuh dengan peraturan tour yang menganjurkan untuk mengikuti seluruh rangkaian acaranya. Tapi kalau saya dipaksa ikut ke setiap tempat yang tidak saya sukai dan itu benar-benar membuang waktu kan nggapleki. Anda akan benar-benar tersiksa dengan liburan yang serba disiplin seperti ini, buang hajat diwaktuin, belanja diwaktuin, bahkan duduk-duduk sambil memandang pemandanganpun diberi waktu. 

Tapi ini kan grup jadi harus serba disiplin, biar teratur acaranya. Ah prek.

Fakta yang berikut ini saya dapatkan seusai mengobrol dengan beberapa Bapak-Bapak yang juga kebetulan muak dengan susunan acara yang diatur sedemikian rupa oleh agen wisata. Sudah menjadi rahasia umum, bahwasannya setiap rombongan tour –baik lokal ataupun asing—harus mengunjungi tempat-tempat produksi rumahan. Misal: Toko perhiasan: emas, batu giok, permata, dll. Perusahaan Teh, Perusahaan sutra, dan bahkan klinik-klinik pengobatan tradisonal. Modusnya hampir sama, mereka memberikan sample-sample masing-masing produk atau setidaknya bercerita sejarah tentang produk miliknya dan ditambah sedikit ‘fakta-fakta’ pemanis. Lalu apa untungnya agen wisata membawa tamu mereka kesini? Jelas mereka mendapatkan fee sekian persen jika ada tamu yang kena tipu.

Saya menyarankan jika suatu hari nanti anda jalan-jalan dan menggunakan jasa agen wiasata, diusahakan jangan membeli di tempat-tempat seperti itu. Biasanya harganya relatif mahal dan sudah jelas anda sedang ‘ditipu’ secara halus. Karena hampir setiap destinasi wisata yang saya kunjungi dan kebetulan ada agen wisatanya, sudah pasti modusnya sama: nipu. Dulu saat di Hongkong, saya dipaksa memasuki sebuah klinik kesehatan, yang katanya cukup terkenal disana. Awal turun dari bis saya sudah mulai curiga. Klinik kesehatan yang terkenal ampuh dan mujarab gini kok sepi. Akhirnya setelah berkeliling ruangan sambil diceritai sejarah berdirinya klinik tersebut saya dipaksa masuk ke dalam sebuah ruangan dengan alasan akan diperiksa.

“Mas namanya siapa?” Si engkoh penerjemah yang duduk disebelah dokter menerjemahkan dengan terbata-bata.

“Paisal, Pak. Paisal Salman.” Jawab saya ragu.

“Anda umul berapa aaa? Coba sini saya lihat tangan anda aa?”

“Delapan belas” Seraya mengulurkan tangan.

“Wa anda melokok ya, wa itu tidak sehat, tangan anda jadi mudah berkeringat, detak jantung anda lemah, waa ini bisa belpotensi penyakit kangkel ini..”

Saya hanya terkekeh-kekeh kecil, asumsi saya si dokter ini tertipu dengan warna bibir saya yang agak gelap, seperti perokok berat. Akhirnya saya putuskan untuk berpura-pura menjadi perokok.

“Wa supaya menatlalisir lacun yang ada di dalam tubuh anda halus membeli obat yang kita olang punya aa, sudah banyak  yang melasakan khasiatnya aa, harganya murah aaa..”

Jadi begitulah rata-rata modusnya, banyak yang berpura-pura ahli tapi ternyata tidak. Saya kira modusnya hampir sama seperti pada kasus klinik kesehatan, cuma modus penipuannya saja yang berbeda. Tapi ya karena banyak yang takut dengan yang dikatakan ‘si dokter’ akhirnya banyak juga yang beli.

Liburan di China kemarin adalah menjadi puncak pemberontakan, pemberontakan atas penipuan dan pemaksaan. Setelah menyadari ketidakberesan modus penjualan mereka saya memilih membangkang untuk tidak mengikuti rangkaian acaranya. Kalau saya tidak salah, itu adalah hari ketiga di China, dan tujuannya adalah ke toko batu giok. Ketika semua rombongan turun saya memilih tidur di dalam bis, penat sekali rasanya. Sekitar 15 menit rasa kantuk mulai menghinggapi, dan akhirnya mata terpejam. Namun, belum sampai 5 menit tertidur, si tour guide membangunkan saya sambil agak sebal. Ayoh turun, mereka hitung per kepala soalnya, gk enak juga sama yang lain masa gak turun. Ayoh turun. Begitu rengek si tour guide. Ada sekitar 5-6 orang yang tidak turun dari bis. “Langsung naik ke atas, lantai 2!” Teriak si tour guide. Dengan agak jengkel saya pun akhirnya turun.

Setibanya di loby gedung saya putuskan untuk mampir sebentar ke kamar mandi. Entah setan apa yang tiba-tiba membisiki saat itu, seperti ada yang menyuruh untuk keluar dan duduk-duduk sebentar di taman, sedangkan rombongan yang lain sudah naik semuanya. Tidak lama si tour guide (lagi-lagi) menghampiri saya. Pak, temen-temen yang lain udah pada naik di atas loh, ayo naik gih, udah dibilangin dari tadi juga. Kali ini dengan nada yang berbeda, agak tinggi saya pikir. Akhirnya saya benar-benar mengalah dan naik.

Ini adalah disiplin kedua yang (lagi-lagi) saya langgar. Tak ayal, saat memasuki ruang pertemuan, semua mata memandang tajam. Kebetulan ada 2 kursi kosong di bagian pojok, saya pun memiih duduk disana. Seorang teman yang duduk disamping memberi tahu, bos dari pemilik toko batu giok ini akan datang untuk khusus menyambut ‘tamu’ dari Indonesia. Dan seberang meja sana bercerita seorang pegawai toko tentang sejarah panjang berdirinya toko, dan keunggulan-keunggulan produknya. Klise.

Tidak perlu menunggu lama, si bos yang dijanjikan akhirnya datang. Dely, teman yang duduk di sebelah saya tiba-tiba merubah gaya duduknya, semanis yang bisa dia lakukan. Saat memulai pembicaraan saya merasai betul aura ke-bos-annya. Walaupun dengan terbata-bata tapi dia tetap menjaga wibawanya. Beberapa teman yang memang nyeleneh mencoba memancing dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh, tapi si bos tidak mau teralihkan, dia tetap berusaha membawa forum agar tetap menjadi miliknya.

Dengan cerita yang agak serius terkadang dia menyelipkan sedikit lelucon. Dia bilang tidak suka tinggal di China, orang-orang di China menurutnya aneh dan bau-bau. “Teman-teman dari Indonesia juga hati-hati aa, jangan beli batu giok di China, sudah kualitasnya jelek banyak yang pulsa juga aa” Tak pelak, tawapun menggelegar. Kemudian dilanjutkannya, “Saya juga sebenarnya tidak suka bisnis aaa, ayah saya yang belikan kepada saya, saya dipaksa beljualan batu. Kelja saya sebenalnya adalah alsitketul, saya tidak suka bisnis ini aa, jangan beli batu disini aaa” Tawa kedua akhirnya pecah. Banyak yang menceletuk, “Haha, dasar bos polos!”

Di tengah pembicaraan ada seorang ibu yang bertanya, “Kok Engkoh bisa ngomong Bahasa Indonesia?” Sebenarnya saya ini keturunan Indo, Ibu saya tinggal di Pluit, dekat dengan Ahok. O bulatpun keluar dari mulut setiap group, oooo. Dia merasa senang dikunjungi oleh tamu dari Indonesia. Tidak lama, dia bercerita tentang kesedihannya kehilangan salah seorang saudara saat tsunami Aceh, dengan ekspresi kesedihan yang mencukupi. Kemudian dia memanggil salah seorang karyawannya dan berbisik.

“Saya sangat senang sekali dengan kunjungan teman-teman dali Indonesia ini, oleh sebab itu akan saya belikan masing-masing satu batu giok, tapi jangan beli batu disini ya, saya tidak suka bisnis ini!” Tiba-tiba saja ruangan menjadi riuh, mendengar akan diberi batu semuanya senang bukan kepalang. Angpau pun dibagikan, sesuai dengan janjinya, di dalamnya terdapat satu batu giok berukuran 2x lipat dari uang receh seribu rupiah. “Ah lu kan! Untung aja naik coba kalau dibawah aja, pasti gak dapet gratisan kan! Haha” Komentar salah seorang teman. Dely yang sedari tadi sibuk ngobrol dengan kakaknya, akhirnya membuka pembicaraan untuk teman-teman disampingnya. “Eh, Si Engkoh masih single gk tuh ya? Del, lumayan loh mumpung di China” Protes sang kakak sembari tersenyum yang membuat matanya hanya terlihat garis. “Shikat lah!” Seorang teman lainnya ikut berkomentar.

Dan dengan pembagian batu, berakhirlah acara pertemuan. Saat hendak meninggalkan ruangan ternyata masih tidak diperbolehkan. Digelarlah lapak dagangan pada akhirnya. Macam-macam batu dikeluarkan, mulai dari ruby sampai giok-giok biasa. Yang terdepan memperhatikan adalah golongan-golongan olang belduit dan senior-senior. Saya beserta anak-anak muda lainnya memilih mengobrol di belakang. 

Mengamati tingkah laku para pebisnis di depan saya ini aneh rasanya, mereka mengaku sedikitnya dalam sebulan bisa tiga kali plesiran ke luar negeri. Tapi untuk menyadari ‘bisinis kotor’ yang semacam inipun tidak bisa. Memang dalam hal ini (penjual batu giok) bermain lebih bersih ketimbang modus-modus semacam klinik kesehatan. Mula-mulanya berpura-pura polos, lalu merasa sama nasib, menyatakan simpati, dan tentu saja akhirnya memberikan batu secara Cuma-Cuma. Klise.

Di dalam perjalanan pulang, rombongan keluarga yang duduk dibelakang mengoceh sepanjang jalan tentang penyesalan mereka membeli banyak batu. “Wah dasar gara-gara si Bos batu kita jadi tekor banyak ni! Haha” Lalu disahuti oleh saudaranya yang lain “Jangan beli batu di China aa tidak bagus aaa. Saya juga tidak suka bisnis ini!” Seraya menirukan gaya si Bos Batu, tawapun kembali pecah. “Hahahaha, saya tidak suka bisnis ini”

Saya hanya terkekeh-kekeh menyaksikan perilaku orang-orang tua di belakang saya ini. Di setiap rumah produksi yang disinggahi, mereka pasti berbelanja. Semua dibeli entah itu obat luka bakar, kain sutra, sampai tentu saja batu giok yang tidak mereka mengerti keasliannya. Sesekali memang terdengar keluhan tentang keluhan pengeluaran mereka yang dibarengi dengan bercandaan. Pakaian ala Eropa yang mereka gunakan ternyata masih belum selaras dengan cara berpikirnya. Sering berpelesir ke luar negeri, tapi tetap saja terjebak dengan ‘bisnis kotor.’

Saat sedang tenggelam dalam lamunan tentang perilaku orang-orang tua itu, saya justru teringat kutipan Mbah Pram dalam Anak Semua Bangsa: Manusia tetap yang dulu juga, ruwet dan pusing dengan nafsunya yang sama dan itu-itu juga. Seperti di zaman wayang dulu.

Yogyakarta, 6 Mei 2015


0 komentar:

Posting Komentar