Tlah coba kubayangkan beberapa kompilasi kata-kalimat-paragraf untuk mulai menulis ini. Tapi aku tak benar-benar sanggup merencanakannya. Maka akhirnya, kupaksakan menulis juga dengan cara yang begini buruk.
Ketika sibuk mendengarkan lagu dari telpon genggamku. Sembari mencoba memahami apa yang hendak disampaikan Orang Kecil di 1Q84 melalui jalan pikiran Murakami. Suara 3 orang ibu menyelinap masuk dalam telinga. Sebuah reuni kelihatannya. Sedangkan di luar hujan masih turun, rapat-lebat.
Aku menerka mereka berada pada penghujung umur 40. Yang merapat pada jendela mengenakan jilbab putih, perempuan yang di sampingnya--dan terlihat mendominasi pembicaraan--punya potongan rambut yang pendek dan cara bertutur yang rinci dan tegas, sedangkan yang terakhir mengikat rambutnya ke belakang dan memakai kacamata. Ketiganya punya selera berpakaian yang baik. Apakah menilai baik atau buruk selera berpakaian menunjukan kecenderungan orientasi seksual? Ah, kurasa pada kasus ini tidak juga.
Beberapa percakapan yang kudengar adalah tentang: kemana sekarang teman-teman seangkatan mereka? Dan kok bisa begitu?
Aku tak sempat mengambil kesimpulan tempat mereka kuliah (atau sejenisnya). Terlalu banyak nama perguruan tinggi dan sekolah yang mereka sebut. Dan itu hanya melintas begitu saja.
Sedari tadi, kesemuanya tak memberi jeda untuk percakapan. Terlihat hangat dan menyenangkan. Tanpa gawai dan kepura-puraan dalam percakapan. "Gawai dan kepura-puraan", apakah Anda akrab dengan hal begini? Sama.
Hampir semua topik pembicaraan tak jauh-jauh dengan dunia akademik: mereka, teman seangkatan, dan juga anak-anaknya. Kudapan yang mereka pesan hampir tandas, tapi minumannya masih tersisa banyak.
Aku mencoba memposisikan diri berada pada percakapan. Lalu membayangkan apa yang akan kuceritakan dari kegiatan 'intelektualku'. Namun aku kesulitan menemukan cerita menarik--atau setidaknya layak untuk diceritakan.
Betul memang kegiatan akademikku masih jauh dari kata selesai, bahkan baru saja menuju pertengahan. Namun potongan-potongan harapan dalam pikiranku masih coba kususun. Apa yang sedang kulakukan? Apa yang sedang kurencankan? Apa yang akan kubicarakan ketika pertemuan macam begitu?
Dan kita, terlampau terburu-buru--untuk tidak menyebutnya sombong, berpuas diri dengan apa yang telah kita kerjakan.
Semarang, 4/11/16
Kenapa tak kunjung reda. Oh, hujan?

0 komentar:
Posting Komentar