Sabtu, 09 Januari 2016

RM. Padang dan Rendang Asu


Sumber: http://goo.gl/RoFKlp
Saya sedang makan siang di salah satu RM. Padang saat, secara kebetulan, berjumpa dengan Saut Situmorang. Ia makan lahap sekali, saya tidak ingat betul apa yang sedang di makannya, karena memang tidak begitu detail mengawasinya. Saya memesan nasi dengan sepotong rendang dan jeruk panas, meja yang berseberangan dengan Saut saya pilih, agar sesekali bisa mengamati gerak-geriknya dari kejauhan.

              Nama Saut Situmorang menjadi sering saya baca di pelbagai media sosial akhir-akhir ini. Persoalannya dengan Fatin Hamama dan ‘sastrawan paling berpengaruh’ Denny JA—yang berada di belakangnya-- berbuntut panjang. Saut dijerat dengan tuduhan “pencemaran nama baik” dan “pelecehan seksual verbal”. Setelah sebelumnya Iwan Soekri juga mengalami hal serupa. Saut sedari awal memang tidak setuju dengan diterbitkannya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh sebab berbau politis dan banyak kecacatan selama penggarapnnya. Salah satu blunder yang paling kentara adalah memasukan nama Denny JA di dalamnya.

Anda hendak mencari tahu siapa Denny JA itu? Sila buka akun @DennyJA_world di twitter. Amati kicauan yang disematkannya. Di-retweet sebanyak 1,4 juta kali. Anda patut merasa curiga jika telah membaca seluruh kicauannya. Kicauan lainnya, yang sungguh puitir itu, hanya di-RT oleh 5-6 orang, mentok delapan. Anda curiga itu akun bayaran? Cobalah mampir dan teliti akun macam apa yang dengan sukarela mencuitkan-ulang. Jangan kaget saat anda menemukan akun luar negeri yang isi linimasa(kesemua)nya sama persis satu sama lain dan jumlah follower nihil. Saya tidak bilang kalau itu akun bayaran, saya kira akun yang mirip-mirip itu cuma khilaf. Khilaf berjamaah.

Atau jika Anda merasa itu tidak cukup sila tengok laman facebooknya, baru-baru ini dia meng-kepter status, entah siapa itu, semacam testimoni, yang isinya kurang lebih: Kalian pernah membaca Maxim Gorky? Bagaimana dengan Pramoedya Ananta Toer? Apa yang kalian rasakan selepas membacanya? Saya merasakan “sastra yang menggetarkan” dan “memperluas cakrawala” sehabis menikmati karyanya. Perasaan itu pula yang saya rasakan sehabis menandaskan karya Denny JA. Oh puisi esai yang sangat indah. Katanya..

Begitu jika saya bahasakan ulang. Eh, tapi, setelah saya tengok status asli si pemberi testimoni. Di sana memang tertulis nama Denny JA, tapi tidak ditautkan kepada akun resminya. Oh, mungkin saking menghargai penggemarnya, ia sampai harus blusukan ke status yang bahkan baru dilike oleh 8 orang. Tapi, sampeyan jangan komen macem-macem di status blio, sebab selain sering mengadakan survey di kolom komentar, blio juga menulis begini: Sahabat, mari kita tradisikan bertukar pikiran. Sangat mungkin pandangan sahabat dikutip dalam buku yang akan merekam diskusi di rubrik ini. Sangat mungkin juga dikutip wartawan. Jadi, ya, kalau mau komen di sana, usahakan sudah memenuhi kaidah berbahasa yang benar dan mengandung intisari yang bermanfaat. Siapa tahu komentar anda dijadikan buku.


Mengapa pula Denny JA di masukan dalam daftar sastrawan paling berpengaruh? Disandingkan pula dengan sastrawaan kenamaan macam Pram, H. B. Jassin, HAMKA, Rendra, Chairil Anwar, sampai sastrawan yang masih dapat dijumpai macam Helvy Tiana, Emha, Ayu Utami dan Goenawan Muhammad. Puisi esailah musababnya, haduh, jangan bilang Anda tidak paham puisi esai. Bayangkanlah kombinasi dahsyat keduanya, puisi dengan segala keindahannya dan esai bersama segala keakuratan data serta struktur yang sistematis. Oh, Anda belum paham juga, baiknya saya sitirkan bagaimana bentuk puisi esai, melalui catatan Arlian Buana pada Pria Punya Selera yang Susunya Susu Bendera:

Singkat kata, Bana yang sedang mengobrol bersama rekan-rekannya, mengamati banyak mahasiswi mondar-mandir. 

“Sebentar. Sebentar,” sela Kamandobat. 

“Ada puisi lewat.” 

Seorang mahasiswi dengan blus putih dan rok tribal selutut melintas. Parasnya putih mulus, peralatan kecantikan modern sepertinya bekerja dengan baik di sana, kaki jenjangnya pun tanpa cacat dipercantik sepatu hak tinggi sehingga bentuk betisnya terlihat kencang meski kesan lembutnya tetep menempel. Hidung mancung. Menenteng tas dan berjalan dengan irama terjaga, anggun. Bentuk tubuhnya seperti rata-rata model pakaian dalam. Saya menoleh, Nugroho dan Zulhazmi nyengir.

“Itu baru puisi. Berdarah-daging,” kata Kamandobat, tertawa.
Tak lama, muncul serombongan mahasiswi lainnya. 

Tidak seperti mahasiswi sebelumnya, mereka terlihat tanpa polesan memadai, seperti tidak mengenal perawatan kulit yang mahal kecuali mungkin sabun cuci muka dan krim yang diiklankan televisi. Mereka semakin mendekat ke tempat kami ngobrol. 

“Sebentar, sebentar,” giliran saya yang menyela. 

“Ada tiga puisi esai mau lewat.” 

“Hahahaha.. Ada catatan kakinya gitu,” timpal Nugroho.

Ya, itulah puisi esai. Puisi dengan catatan kaki di sana-sini. Jika tidak puas dengan ilustrasi di atas. Cobalah mencari sendiri dan rasakan betapa dahsyat faidahnya.

***

Sedang dari seberang sana Saut masih menyantap hidangan di hadapannya dengan lahap. Nyam, nyam, nyam. Benarkah dia sedang menghadapi kasus yang serius? Apa orang yang sedang dijerat kasus juga bisa lapar?

Rasa-rasanya akan timpang apabila tidak membahas karya-karya Denny JA lainnya, buku misalnya. Marilah kita cari rujukan portal daring di mana karya-karya  para sastrawan tak henti-hentinya diulas dan diberi nilai. Kita batasi dengan portal yang berskala internasional, ambillah Goodreads. Jemaripun mengetikan namanya pada kolom pencarian. Dan memang muncul puluhan karya sastrawan paling berpangaruh ini. Terbelalaklah mata saya ketika melihat bukunya (Fang Yin’s Hankerrchief)  yang baru saja mendapat anugerah sebagai buku milik orang Indonesia pertama yang menjadi best seller versi amazon.com, hanya diberi nilai 2 bintang. Bahkan kurang ajarnya, yang memberikan ulasan hanya satu orang. Kurang ajar memang! Pengguna Goodreads memang tak punya selera bagus. Puisi esai sebagus itu hanya dihargai 2 bintang dari satu pengguna. 

Saya rasa ini menjadi penghinaan yang kepalang keparat terhadap karya sastra, padahal buku itu tidak hanya menjadi buku terlaris pertama dari Indo, tapi juga mampu mengalahkan penulis kenamaan dunia cum Kahlil Gibran, William Shakespeare, dan Jalaluddin Rumi. Dan betapa kekecewaan saya semakin menjadi-jadi ketika tahu, melalui toko daring, Gramedia dan Togamas tidak menjual buku tersebut. Oh betapa cinta saya bertepuk sebelah tangan.

***

Saut sudah selesai dengan makan siangnya. Kini dikeluarkannya cigaret dari saku celana. Diambilnya satu, lalu dibakar. Sambil sesekali menenggak minum, asap dikepulkannya ke udara bebas. Ffiiuuuh, fffiuuuhh, fiiiuuuuh..

Oh, siapa pula Fatin Hamama? Begitu? Oh, Anda seharusnya tahu fungsi google. Baiklah saya jelaskan. Singkatnya dialah yang dalam kasus “pencemaran nama baik” dan “pelecehan seksual verbal” dianggap sebagai korban. Pada dasarnya ‘konflik’ antara Saut dan Denny tidak berbenturan secara langsung. Sebab Saut tak setuju dengan diterbitkannya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, maka ia dan beberapa orang teman menggagas sebuah kelompok yang berbasis grup facebook. Nah, dari grup itu pula Saut dan kawannya Iwan harus berhadapan dengan hukum.

Ihwal alasan Saut dijerat dengan pasal penghinaan sebab ia menuliskan komentar pada grup Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh  di jejaring facebook yang berbunyi: “bajingan” dan “lonthe”. Fatin merasa itu ditujukan untuknya. Terbakarlah jenggotnya, padahal Fatin tidak punya jenggot. Mungkin jenggot Denny yang kobongan. Pada sebuah kolom komentar Saut menanggapi, kata-kata yang dinukil dari ocehannya itu telah “dengan sengaja diptong dengan sewenang-wenang” dan bahkan dalam kalimat aslinya tidak tercantum nama Fatin Hamama.

Jika Anda ingin tahu duduk perkara dan kronologis yang sejelas-jelasnya sila tengok tautan berikut. Ada dua tulisan menarik jika memang tautan sebelumnya tidak memuaskan, pertama milik Katerin Bandel yang dimuat di boemiputra. Lalu selanjutnya status facebook Puthut yang maha EA, yang ternyata menjadi rujukan beberapa media daring mainstream.

Lalu bagaimana bisa Denny JA dimasukan ke daftar hanya karena puisi esainya? Apakah benar hanya dengan cara itu? Apa tidak ada yang curiga Denny JA yang notabene donatur dalam proyek buku tersebut, tidak ‘menyogok’ panitia? Sudahlah, jangan gumunan. Sebab menurut penuturan Puthut, hal seperti ini jamak dilakukan. Jangankan dalam dunia kesusatraan, dalam hal obral gelar yang dilakukan kerjaan-kerajaan tertentu bagi politikus, intelktuil, dan artis saja jamak dilakukan.

Nah, ini yang paling penting, jadi, dalam kasus penyisipan nama Denny JA dalam proyek buku itu siapa salah siapa benar? Kiranya tulisan Puthut ini akan memberi sedikit gambaran:

“Lho, apa salah Denny? Dia sudah mengeluarkan uang, mungkin juga sudah harus memotong urat malunya, kok masih disalahkan? Kalau sampeyan punya rumah, terus rumah tersebut disewa 10 kali lipat dari harga biasa, lalu dipakai untuk buka game center, kemudian ketika warga sekitar protes karena anak-anak mereka lebih sering amin game, yang disalahkan paling utama yang menyewakan rumah atau yang menyewa rumah?”

            Eh, saya kok lupa mau jelaskan siapa Saut Situmorang itu. Lah, mungkin lain kali saja. Selepas saya dapat buku barunya yang bertajuk Khotbah Hari Minggu sekalian mengabarkan perkembangan terbaru kasus hukumnya.

***


“Tadi makan sama apa, Pak?”

“Nasi, tempe, rendang. Es jeruk.”

“Rendangnya rendang apa ya, Pak?” Tanya kasir setengah bercanda.

“Ya, rendang sapi lah. Masa rendang asu!”*

Dan itulah dia Saut Situmorang, sastrawan yang baru saja selesai makan siang dengan setelan celana pendek dan baju hitam, dengan rambut gimbalnya yang menutupi punggung.



Panggungharjo, 10 Januari 2016

Ditulis sebagai partisipasi dalam #WrintingChallange ‘sindikat literasi Jogja-Jember’
Diunggah sebagai solidaritas #SaveSaut


P.S. *Cuplikan terakhir adalah percakapan imajiner penulis semata.

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Masnya sudah follow @DennyJA_world? Follow gih. Lumayan, lho. Tahun 2013 lalu, yang follow blio dijanjiin dapat iPad. Siapa tahu tahun ini hadiahnya umroh.

      Hapus
  2. satu lagi yang harusnya dimasukkan, Man. bagaimana Denny JA membuat lomba penulisan karya puisi essay yang berhadiah puluhan juta rupiah itu. bukankah itu ganjil? tapi juga pintar? Dia ingin memperkenalkan teori barunya lewat kompetisi. istimewakkkkkkkk

    satu lagi, gaya bahasamu terinspirasi dari mana? aku serasa baca tulisan di artikel mojok. haa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segan betul rumah anada yang kecil ini disinggahi oleh Ayunda. Dikomen pulak. Tali omong-omong, terima kasih tambahan infonya. Bisa jadi tambahan referensi bagi pejuang karya tulis yang puitis dan kebetulan sedang ingin beli mobil murah dan tanpa nyicil. Tabique.

      Hapus