![]() |
| Sumber: http://goo.gl/RoFKlp |
Nama
Saut Situmorang menjadi sering saya baca di pelbagai media sosial akhir-akhir
ini. Persoalannya dengan Fatin Hamama dan ‘sastrawan paling berpengaruh’ Denny
JA—yang berada di belakangnya-- berbuntut panjang. Saut dijerat dengan tuduhan “pencemaran
nama baik” dan “pelecehan seksual verbal”. Setelah sebelumnya Iwan Soekri juga
mengalami hal serupa. Saut sedari awal memang tidak setuju dengan
diterbitkannya buku 33 Tokoh Sastra
Indonesia Paling Berpengaruh sebab berbau politis dan banyak kecacatan
selama penggarapnnya. Salah satu blunder yang paling kentara adalah memasukan
nama Denny JA di dalamnya.
Anda hendak mencari
tahu siapa Denny JA itu? Sila buka akun @DennyJA_world di twitter. Amati kicauan
yang disematkannya. Di-retweet
sebanyak 1,4 juta kali. Anda patut merasa curiga jika telah membaca seluruh kicauannya.
Kicauan lainnya, yang sungguh puitir itu, hanya di-RT oleh 5-6 orang, mentok
delapan. Anda curiga itu akun bayaran? Cobalah mampir dan teliti akun macam apa
yang dengan sukarela mencuitkan-ulang. Jangan kaget saat anda menemukan akun
luar negeri yang isi linimasa(kesemua)nya sama persis satu sama lain dan jumlah
follower nihil. Saya tidak bilang
kalau itu akun bayaran, saya kira akun yang mirip-mirip itu cuma khilaf. Khilaf
berjamaah.
Atau jika Anda merasa
itu tidak cukup sila tengok laman facebooknya, baru-baru ini dia meng-kepter
status, entah siapa itu, semacam testimoni, yang isinya kurang lebih: Kalian
pernah membaca Maxim Gorky? Bagaimana dengan Pramoedya Ananta Toer? Apa yang
kalian rasakan selepas membacanya? Saya merasakan “sastra yang menggetarkan”
dan “memperluas cakrawala” sehabis menikmati karyanya. Perasaan itu pula yang
saya rasakan sehabis menandaskan karya Denny JA. Oh puisi esai yang sangat
indah. Katanya..
Begitu jika saya
bahasakan ulang. Eh, tapi, setelah saya tengok status asli si pemberi
testimoni. Di sana memang tertulis nama Denny JA, tapi tidak ditautkan kepada
akun resminya. Oh, mungkin saking menghargai penggemarnya, ia sampai harus blusukan ke status yang bahkan baru dilike oleh 8 orang. Tapi, sampeyan jangan
komen macem-macem di status blio, sebab selain sering mengadakan survey di
kolom komentar, blio juga menulis begini: Sahabat,
mari kita tradisikan bertukar pikiran. Sangat mungkin pandangan sahabat dikutip
dalam buku yang akan merekam diskusi di rubrik ini. Sangat mungkin juga dikutip
wartawan. Jadi, ya, kalau mau komen di sana, usahakan sudah memenuhi kaidah
berbahasa yang benar dan mengandung intisari yang bermanfaat. Siapa tahu
komentar anda dijadikan buku.
Mengapa pula Denny JA
di masukan dalam daftar sastrawan paling berpengaruh? Disandingkan pula dengan sastrawaan
kenamaan macam Pram, H. B. Jassin, HAMKA, Rendra, Chairil Anwar, sampai sastrawan
yang masih dapat dijumpai macam Helvy Tiana, Emha, Ayu Utami dan Goenawan
Muhammad. Puisi esailah musababnya, haduh, jangan bilang Anda tidak paham puisi
esai. Bayangkanlah kombinasi dahsyat keduanya, puisi dengan segala keindahannya
dan esai bersama segala keakuratan data serta struktur yang sistematis. Oh, Anda
belum paham juga, baiknya saya sitirkan bagaimana bentuk puisi esai, melalui catatan
Arlian Buana pada Pria Punya Selera yang
Susunya Susu Bendera:
Singkat kata, Bana yang
sedang mengobrol bersama rekan-rekannya, mengamati banyak mahasiswi
mondar-mandir.
“Sebentar.
Sebentar,” sela Kamandobat.
“Ada
puisi lewat.”
Seorang
mahasiswi dengan blus putih dan rok tribal selutut melintas. Parasnya putih
mulus, peralatan kecantikan modern sepertinya bekerja dengan baik di sana, kaki
jenjangnya pun tanpa cacat dipercantik sepatu hak tinggi sehingga bentuk
betisnya terlihat kencang meski kesan lembutnya tetep menempel. Hidung mancung.
Menenteng tas dan berjalan dengan irama terjaga, anggun. Bentuk tubuhnya
seperti rata-rata model pakaian dalam. Saya menoleh, Nugroho dan Zulhazmi
nyengir.
“Itu
baru puisi. Berdarah-daging,” kata Kamandobat, tertawa.
Tak lama, muncul
serombongan mahasiswi lainnya.
Tidak
seperti mahasiswi sebelumnya, mereka terlihat tanpa polesan memadai, seperti
tidak mengenal perawatan kulit yang mahal kecuali mungkin sabun cuci muka dan
krim yang diiklankan televisi. Mereka semakin mendekat ke tempat kami ngobrol.
“Sebentar,
sebentar,” giliran saya yang menyela.
“Ada
tiga puisi esai mau lewat.”
“Hahahaha..
Ada catatan kakinya gitu,” timpal Nugroho.
Ya, itulah puisi esai.
Puisi dengan catatan kaki di sana-sini. Jika tidak puas dengan ilustrasi di
atas. Cobalah mencari sendiri dan rasakan betapa dahsyat faidahnya.
***
Sedang dari seberang
sana Saut masih menyantap hidangan di hadapannya dengan lahap. Nyam, nyam,
nyam. Benarkah dia sedang menghadapi kasus yang serius? Apa orang yang sedang
dijerat kasus juga bisa lapar?
Rasa-rasanya akan
timpang apabila tidak membahas karya-karya Denny JA lainnya, buku misalnya.
Marilah kita cari rujukan portal daring di mana karya-karya para sastrawan tak henti-hentinya diulas dan
diberi nilai. Kita batasi dengan portal yang berskala internasional, ambillah
Goodreads. Jemaripun mengetikan namanya pada kolom pencarian. Dan memang muncul
puluhan karya sastrawan paling berpangaruh ini. Terbelalaklah mata saya ketika
melihat bukunya (Fang
Yin’s Hankerrchief) yang baru
saja mendapat anugerah sebagai buku milik orang Indonesia pertama yang menjadi best seller versi amazon.com, hanya
diberi nilai 2 bintang. Bahkan kurang ajarnya, yang memberikan ulasan hanya
satu orang. Kurang ajar memang! Pengguna Goodreads
memang tak punya selera bagus. Puisi esai sebagus itu hanya dihargai 2 bintang
dari satu pengguna.
Saya rasa ini menjadi
penghinaan yang kepalang keparat terhadap karya sastra, padahal buku itu tidak
hanya menjadi buku terlaris pertama dari Indo, tapi juga mampu mengalahkan
penulis kenamaan dunia cum Kahlil Gibran, William Shakespeare, dan Jalaluddin
Rumi. Dan betapa kekecewaan saya semakin menjadi-jadi ketika tahu, melalui toko
daring, Gramedia dan Togamas tidak menjual buku tersebut. Oh betapa cinta saya
bertepuk sebelah tangan.
***
Saut sudah selesai
dengan makan siangnya. Kini dikeluarkannya cigaret dari saku celana. Diambilnya
satu, lalu dibakar. Sambil sesekali menenggak minum, asap dikepulkannya ke udara
bebas. Ffiiuuuh, fffiuuuhh, fiiiuuuuh..
Oh, siapa pula Fatin
Hamama? Begitu? Oh, Anda seharusnya tahu fungsi google. Baiklah saya jelaskan. Singkatnya
dialah yang dalam kasus “pencemaran nama baik” dan “pelecehan seksual verbal”
dianggap sebagai korban. Pada dasarnya ‘konflik’ antara Saut dan Denny tidak
berbenturan secara langsung. Sebab Saut tak setuju dengan diterbitkannya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh,
maka ia dan beberapa orang teman menggagas sebuah kelompok yang berbasis
grup facebook. Nah, dari grup itu pula Saut dan kawannya Iwan harus berhadapan
dengan hukum.
Ihwal alasan Saut
dijerat dengan pasal penghinaan sebab ia menuliskan komentar pada grup Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra
Indonesia Paling Berpengaruh di
jejaring facebook yang berbunyi: “bajingan” dan “lonthe”. Fatin merasa itu ditujukan untuknya. Terbakarlah
jenggotnya, padahal Fatin tidak punya jenggot. Mungkin jenggot Denny yang kobongan. Pada sebuah kolom komentar
Saut menanggapi, kata-kata yang dinukil dari ocehannya itu telah “dengan sengaja
diptong dengan sewenang-wenang” dan bahkan dalam kalimat aslinya tidak
tercantum nama Fatin Hamama.
Jika Anda ingin tahu
duduk perkara dan kronologis yang sejelas-jelasnya sila tengok tautan
berikut. Ada dua tulisan menarik jika memang tautan sebelumnya tidak
memuaskan, pertama milik Katerin Bandel yang dimuat di boemiputra.
Lalu selanjutnya status facebook Puthut yang maha EA, yang ternyata menjadi
rujukan beberapa media daring mainstream.
Lalu bagaimana bisa
Denny JA dimasukan ke daftar hanya karena puisi esainya? Apakah benar hanya
dengan cara itu? Apa tidak ada yang curiga Denny JA yang notabene donatur dalam
proyek buku tersebut, tidak ‘menyogok’ panitia? Sudahlah, jangan gumunan. Sebab menurut penuturan Puthut,
hal seperti ini jamak dilakukan. Jangankan dalam dunia kesusatraan, dalam hal
obral gelar yang dilakukan kerjaan-kerajaan tertentu bagi politikus,
intelktuil, dan artis saja jamak dilakukan.
Nah, ini yang paling
penting, jadi, dalam kasus penyisipan nama Denny JA dalam proyek buku itu siapa
salah siapa benar? Kiranya tulisan Puthut ini akan memberi sedikit gambaran:
“Lho, apa salah Denny? Dia sudah mengeluarkan uang, mungkin juga sudah harus memotong urat malunya, kok masih disalahkan? Kalau sampeyan punya rumah, terus rumah tersebut disewa 10 kali lipat dari harga biasa, lalu dipakai untuk buka game center, kemudian ketika warga sekitar protes karena anak-anak mereka lebih sering amin game, yang disalahkan paling utama yang menyewakan rumah atau yang menyewa rumah?”
Eh,
saya kok lupa mau jelaskan siapa Saut Situmorang itu. Lah, mungkin lain kali
saja. Selepas saya dapat buku barunya yang bertajuk Khotbah Hari Minggu
sekalian mengabarkan perkembangan terbaru kasus hukumnya.
***
“Tadi makan sama apa, Pak?”
“Nasi, tempe, rendang. Es jeruk.”
“Rendangnya rendang apa ya, Pak?” Tanya kasir
setengah bercanda.
“Ya, rendang sapi lah. Masa rendang asu!”*
Dan itulah dia Saut Situmorang, sastrawan yang baru
saja selesai makan siang dengan setelan celana pendek dan baju hitam, dengan
rambut gimbalnya yang menutupi punggung.
Panggungharjo,
10 Januari 2016
Ditulis sebagai
partisipasi dalam #WrintingChallange ‘sindikat literasi Jogja-Jember’
Diunggah sebagai
solidaritas #SaveSaut
P.S. *Cuplikan terakhir adalah percakapan imajiner
penulis semata.

Keren >.<
BalasHapusMasnya sudah follow @DennyJA_world? Follow gih. Lumayan, lho. Tahun 2013 lalu, yang follow blio dijanjiin dapat iPad. Siapa tahu tahun ini hadiahnya umroh.
Hapussatu lagi yang harusnya dimasukkan, Man. bagaimana Denny JA membuat lomba penulisan karya puisi essay yang berhadiah puluhan juta rupiah itu. bukankah itu ganjil? tapi juga pintar? Dia ingin memperkenalkan teori barunya lewat kompetisi. istimewakkkkkkkk
BalasHapussatu lagi, gaya bahasamu terinspirasi dari mana? aku serasa baca tulisan di artikel mojok. haa
Segan betul rumah anada yang kecil ini disinggahi oleh Ayunda. Dikomen pulak. Tali omong-omong, terima kasih tambahan infonya. Bisa jadi tambahan referensi bagi pejuang karya tulis yang puitis dan kebetulan sedang ingin beli mobil murah dan tanpa nyicil. Tabique.
Hapus