Kamis, 07 Januari 2016

Lord Sonto



Ada dua kondisi yang membuat saya resah saat dini hari: terbangun karena kelaparan atau mata minta rehat tapi perut keroncongan. Dua kondisi yang menyiksa itu memang menyusahkan adanya. Beda cerita kalau keduanya dialaami di rumah. Mudah saja, menuju dapur dan memasak apapun yang tersedia.
 
            Pernah beberapa waktu saya ngelilir malam-malam dan mencari-cari gerbang penjara. Biasanya di depan gerbang penjara sudah nangkring penjual makanan yang beragam dan tentu saja seharga kantong ‘tahanan’. Gerbang penjara dan tahanan yang saya maksudkan di sini mengacu kepada pondokan tempat saya tinggal dulu semasa SMA. Barangkali istilah penjara suci adalah istilah yang sudah jamak diketahui khalayak.

            Persoalan menjadi sedikit rumit saat kebiasaan itu tiba-tiba saja muncul belakangan ini, tidur pukul 10 dan terbangun pada dua belas tiga puluh. Tanpa sadar mencari-cari gerbang penjara. Entah bagaimana ceritanya badan ini menuju gerbang yang salah. Padahal sudah hampir 3 tahun meninggalkan penjara dan teman sesama tahanan lainnya, kok, ya, masih terbawa kebiasaan lama.

            Nampaknya mulai dari sini jugalah kebiasaan makan malam (atau pagi?) bermula. Terutama candu terhadap indomie. Saat gerbang dikunci, yang bisa dinikmati beragam namun terbatas. Maka pada kesempatan yang jarang terjadi, saat gerbang tidak dikunci, kedai-kedai mie nyemek pun menjadi tujuan utama. Anda tidak tahu nyemek? Astaga, betapa perut dan pencernaan Anda selama ini tidak pernah membaui surga. 

            Tahun lalu, terakhir kali saya berkunjung, ada beberapa perubahan yang saya lewatkan. Mbok Sri yang paling ramai warungnya karena masakannya enak dan pedas, sudah tidak berjualan, anaknya yang menggantikan. Duo Madura, Cak Yanto dan Cak... Eh, satunya siapa, ya? Ah sial, betapa tuanya diri ini. Sebut saja Cak Darsam, masih di sana. Yang pertama masih setia mendorong gerobak nasi gorengnya sembari mencabuti kumisnya sebagai pengganti bawang goreng. Dan yang kedua, ya, tak beda lah dengan Darsam-nya Nyai Ontosoroh itu. Bertubuh kekar, berkumis baplang, dan tangannya yang sebelah lebih hebat dari lainnya sebab terbiasa dilatih mengipasi sate. 

            Sempat ada juga beberapa penjual makanan ringan datang dan pergi. Tapi saya tak pernah kenal siapa nama dan bagaimana sifatnya. Hipotesa sementara, berdasarkan pengamatan ecek-ecek, penjual makanan ringan tidak dapat bertahan lama sebab beberapa hal: pertama, penjual cenderung menutup diri dan tidak akrab. Kedua, harga-harga yang dijual tanggung, misal harga satu porsi terang bulan sama dengan satu porsi sate dengan lontong setengah. Ketiga, tidak tahan dengan senior. Salah satu argumen kuat untuk ini adalah akan ada kondisi dimana mereka akan kesulitan berkomunikasi dengan para senior, khususnya dengan Cak Yanto dan Cak Darsam yang apabila sudah asik mengobrol berdua tidak ada yang tahu keduanya sedang bergunjing atau mengusir roh halus.

            Walaupun harus jajan setiap malam, saya tidak pernah merasa kehabisan uang. Sebab ada satu cara untuk mengakali pengeluaran. Mengambil jatah makan malam dengan nasi lebih dan disisakan untuk makan dini hari. Biasanya saya kongsi dengan adik kelas, atau ada satu teman yang dengan sukarela bergantian mengambil. Ya, begitulah. Jadi kalau mau makan sate tidak perlu pakai lontong, sudah ada nasi. Kalau sedang ngidam nasi goreng tinggal panggil Cak Yanto dan minta digorengkan, bayar dua per limanya. Atau kalau mau indomie goreng tapi merasa risih dengan porsinya yang serba nanggung itu—apabila satu kurang dan dua kekenyangan—tinggal diakali tambah nasi.

            Untuk makanan yang terakhir lebih mudah didapatkan karena ada dua warung yang menyediakan, Mbok Sri dan Lord Sonto. Eh, aku belum menceritakan Lord Sonto, ya? Jadi Sonto ini bisa dibilang KW-nya Mbok Sri, sebab makanan yang dijual hampir sama, namun soal rasa jelas dibawahnya. Sola harga paling, ya, Cuma 500 perak lebih murah. Bisa juga Sonto ini disebut sebagai aternatif, alternatif saat Mbok Sri ramai atau tidak berjualan.

            Kami selalu memanggilnya Sonto walaupun yang menjaga bukan ia, entah itu istri atau anaknya. Pokoknya Sonto. Oiya, satu-satunya cara untuk memesan ya cuma memanggil keras-keras, nanti pedaganngya yang datang atau jika sepi tinggal sebut saja apa yang dipesan. Nah, Sonto yang legend ini punya banyak standar medioker memang. Lebih banyak lemah ketimbang kuatnya. Baik dari segi palayanan maupun progresifitas.

            Lord Sonto termasuk lama dalam menjemput orderan. Walaupun warungnya sedang sepi, responnya akan tetap sama. Begitu kami memanggilnya, To.... Sonto...Pesan! Kami tidak akan menunggunya, percuma, kami akan mengobrol lebih dulu, bisanya membicarakan sebuah hasil pertandingan bola. Baru lah 5 menit kemudian ia sampai di gerbang, dengan wajah dan perut nggamblehnya yang sangat menyebalkan. “Meh mesen opo, le?” begitu ia selalu memulai. Oh, betapa leletnya.

            Pernah suatu ketika, saya tidak ingat persis kapan, yang jelas itu sudah menjelang pukul 3 pagi. Dan biasanya pedagang-pedagang sudah sepi, kukutan. Nah di saat-saat seperti itulah Lord Sonto sangat bisa diandalkan. Tanpa berpikir panjang saya pun memanggilnya.

“To.. Sonto.. Mesen Mie!” Setengah berteriak dari balik gerbang.

“Sek, sek, Le. Aku lagi ngumbahi.” Lalu berteriaklah ia dari sana. “Mie goreng po godok?

Aku menjawab malas, “Goreng wae..”

“Nganggo endok ra?” (pakai telur tidak?)

Ra sah! Mie wae”

“Nganggo sego ra?” (Pakai nasi?)

“Iyo nganggo.”

“Dibungkus po nganggo piring?” Jawabnya masih dari balik bilik warungnya tanpa kelihatan muka.

Ning piring wae, To!” ujarku mulai kesal.

“Oh iyo, enteni yo.” Sonto menjawab malas dari seberang sana.

Selang 7 menit ia pun datang menghampiri sembari mengantarkan pesanan milik orang lain, dan berujar agak pelan:

Le, jebul miene entek, ameh ganti liyane wae po?” (Mienya habis, apa mau ganti lainnya?)

Dan begitulah percakapan mesra pada malam yang intim antara umat dan Lordnya ditutup. Rasa-rasanya saya ingin bersimpuh dan menyembah di hadapan Lord Sonto sembari berujar “bunuh hamba saja, Lord!”


Panggungharjo, 8 Januari 2016

(Termutakhir)

Usai beberapa tahun bertahan, Lord Sonto akhirnya tumbang, menggenapi nasib Mie Ayam Pak Bendot dan Cak Banjir. Semoga yang tersisa tak lekas layu, sebab bertahan-bersaing tak melulu soal seberapa payu. Lebih dari sekadar itu.

Kredit foto: Subhan/Abdi M S (facebook)


0 komentar:

Posting Komentar