Ada dua kondisi yang membuat saya resah saat dini
hari: terbangun karena kelaparan atau mata minta rehat tapi perut keroncongan.
Dua kondisi yang menyiksa itu memang menyusahkan adanya. Beda cerita kalau
keduanya dialaami di rumah. Mudah saja, menuju dapur dan memasak apapun yang
tersedia.
Pernah
beberapa waktu saya ngelilir malam-malam dan mencari-cari gerbang penjara.
Biasanya di depan gerbang penjara sudah nangkring penjual makanan yang beragam
dan tentu saja seharga kantong ‘tahanan’. Gerbang penjara dan tahanan yang saya
maksudkan di sini mengacu kepada pondokan tempat saya tinggal dulu semasa SMA.
Barangkali istilah penjara suci adalah istilah yang sudah jamak diketahui
khalayak.
Persoalan
menjadi sedikit rumit saat kebiasaan itu tiba-tiba saja muncul belakangan ini,
tidur pukul 10 dan terbangun pada dua belas tiga puluh. Tanpa sadar
mencari-cari gerbang penjara. Entah bagaimana ceritanya badan ini menuju
gerbang yang salah. Padahal sudah hampir 3 tahun meninggalkan penjara dan teman
sesama tahanan lainnya, kok, ya, masih terbawa kebiasaan lama.
Nampaknya
mulai dari sini jugalah kebiasaan makan malam (atau pagi?) bermula. Terutama
candu terhadap indomie. Saat gerbang dikunci, yang bisa dinikmati beragam namun
terbatas. Maka pada kesempatan yang jarang terjadi, saat gerbang tidak dikunci,
kedai-kedai mie nyemek pun menjadi tujuan utama. Anda tidak tahu nyemek?
Astaga, betapa perut dan pencernaan Anda selama ini tidak pernah membaui surga.
Tahun
lalu, terakhir kali saya berkunjung, ada beberapa perubahan yang saya lewatkan.
Mbok Sri yang paling ramai warungnya karena masakannya enak dan pedas, sudah
tidak berjualan, anaknya yang menggantikan. Duo Madura, Cak Yanto dan Cak...
Eh, satunya siapa, ya? Ah sial, betapa tuanya diri ini. Sebut saja Cak Darsam,
masih di sana. Yang pertama masih setia mendorong gerobak nasi gorengnya
sembari mencabuti kumisnya sebagai pengganti bawang goreng. Dan yang kedua, ya,
tak beda lah dengan Darsam-nya Nyai Ontosoroh itu. Bertubuh kekar, berkumis
baplang, dan tangannya yang sebelah lebih hebat dari lainnya sebab terbiasa
dilatih mengipasi sate.
Sempat
ada juga beberapa penjual makanan ringan datang dan pergi. Tapi saya tak pernah
kenal siapa nama dan bagaimana sifatnya. Hipotesa sementara, berdasarkan
pengamatan ecek-ecek, penjual makanan ringan tidak dapat bertahan lama sebab
beberapa hal: pertama, penjual cenderung menutup diri dan tidak akrab. Kedua,
harga-harga yang dijual tanggung, misal harga satu porsi terang bulan sama
dengan satu porsi sate dengan lontong setengah. Ketiga, tidak tahan dengan
senior. Salah satu argumen kuat untuk ini adalah akan ada kondisi dimana mereka
akan kesulitan berkomunikasi dengan para senior, khususnya dengan Cak Yanto dan
Cak Darsam yang apabila sudah asik mengobrol berdua tidak ada yang tahu
keduanya sedang bergunjing atau mengusir roh halus.
Walaupun
harus jajan setiap malam, saya tidak pernah merasa kehabisan uang. Sebab ada
satu cara untuk mengakali pengeluaran. Mengambil jatah makan malam dengan nasi
lebih dan disisakan untuk makan dini hari. Biasanya saya kongsi dengan adik
kelas, atau ada satu teman yang dengan sukarela bergantian mengambil. Ya,
begitulah. Jadi kalau mau makan sate tidak perlu pakai lontong, sudah ada nasi.
Kalau sedang ngidam nasi goreng tinggal panggil Cak Yanto dan minta
digorengkan, bayar dua per limanya. Atau kalau mau indomie goreng tapi merasa
risih dengan porsinya yang serba nanggung itu—apabila satu kurang dan dua
kekenyangan—tinggal diakali tambah nasi.
Untuk
makanan yang terakhir lebih mudah didapatkan karena ada dua warung yang
menyediakan, Mbok Sri dan Lord Sonto. Eh, aku belum menceritakan Lord Sonto,
ya? Jadi Sonto ini bisa dibilang KW-nya Mbok Sri, sebab makanan yang dijual
hampir sama, namun soal rasa jelas dibawahnya. Sola harga paling, ya, Cuma 500
perak lebih murah. Bisa juga Sonto ini disebut sebagai aternatif, alternatif
saat Mbok Sri ramai atau tidak berjualan.
Kami
selalu memanggilnya Sonto walaupun yang menjaga bukan ia, entah itu istri atau
anaknya. Pokoknya Sonto. Oiya, satu-satunya cara untuk memesan ya cuma
memanggil keras-keras, nanti pedaganngya yang datang atau jika sepi tinggal
sebut saja apa yang dipesan. Nah, Sonto yang legend ini punya banyak standar medioker memang. Lebih banyak lemah
ketimbang kuatnya. Baik dari segi palayanan maupun progresifitas.
Lord
Sonto termasuk lama dalam menjemput orderan. Walaupun warungnya sedang sepi,
responnya akan tetap sama. Begitu kami memanggilnya, To.... Sonto...Pesan! Kami
tidak akan menunggunya, percuma, kami akan mengobrol lebih dulu, bisanya
membicarakan sebuah hasil pertandingan bola. Baru lah 5 menit kemudian ia sampai
di gerbang, dengan wajah dan perut nggamblehnya yang sangat menyebalkan. “Meh
mesen opo, le?” begitu ia selalu memulai. Oh, betapa leletnya.
Pernah
suatu ketika, saya tidak ingat persis kapan, yang jelas itu sudah menjelang
pukul 3 pagi. Dan biasanya pedagang-pedagang sudah sepi, kukutan. Nah di
saat-saat seperti itulah Lord Sonto sangat bisa diandalkan. Tanpa berpikir
panjang saya pun memanggilnya.
“To.. Sonto.. Mesen Mie!” Setengah berteriak dari
balik gerbang.
“Sek,
sek, Le. Aku lagi ngumbahi.” Lalu berteriaklah ia
dari sana. “Mie goreng po godok?”
Aku menjawab malas, “Goreng wae..”
“Nganggo
endok ra?” (pakai telur tidak?)
“Ra sah!
Mie wae”
“Nganggo
sego ra?” (Pakai nasi?)
“Iyo
nganggo.”
“Dibungkus po
nganggo piring?” Jawabnya masih dari
balik bilik warungnya tanpa kelihatan muka.
“Ning piring
wae, To!” ujarku mulai kesal.
“Oh iyo,
enteni yo.” Sonto menjawab malas dari seberang sana.
Selang 7 menit ia pun datang menghampiri sembari
mengantarkan pesanan milik orang lain, dan berujar agak pelan:
“Le, jebul
miene entek, ameh ganti liyane wae po?” (Mienya habis, apa mau ganti
lainnya?)
Dan begitulah percakapan mesra pada malam yang intim
antara umat dan Lordnya ditutup. Rasa-rasanya saya ingin bersimpuh dan
menyembah di hadapan Lord Sonto sembari berujar “bunuh hamba saja, Lord!”
Panggungharjo, 8
Januari 2016
(Termutakhir)
Usai beberapa tahun bertahan, Lord Sonto akhirnya tumbang, menggenapi nasib Mie Ayam Pak Bendot dan Cak Banjir. Semoga yang tersisa tak lekas layu, sebab bertahan-bersaing tak melulu soal seberapa payu. Lebih dari sekadar itu.
![]() |
| Kredit foto: Subhan/Abdi M S (facebook) |


0 komentar:
Posting Komentar